BALI — Pernyataan itu disampaikan Cak Nun di tengah kegaduhan informasi yang kian masif, khususnya di media sosial. Ia mengutip ungkapan Al-Qur'an, l? yak?d?na yafqah?na qaul?, yang menggambarkan kondisi kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan.
"Jadi suatu bangsa atau suatu masyarakat yang tidak ngerti diomongin apa saja, atau memang pura-pura tidak ngerti atau yang tidak mau mengerti, jadi semua diplesetkan, semua dibiaskan, semua dijadikan fitnah," ujar Cak Nun.
Cak Nun memetakan tiga persoalan sekaligus yang dihadapi bangsa ini. Pertama, persoalan pengetahuan yang membuat orang tidak mengerti. Kedua, persoalan kepentingan yang membuat orang pura-pura tidak mengerti. Ketiga, persoalan sikap batin yang membuat orang tidak mau mengerti.
Ketika seseorang sudah berada pada posisi tidak mau mengerti, penjelasan sepanjang apa pun tidak lagi menjadi dialog. Setiap kata dicari kelemahannya, setiap kalimat dibiaskan, dan setiap perbedaan dijadikan bahan permusuhan. Kondisi inilah yang menurut Cak Nun membuat perubahan yang dipaksakan justru melahirkan pertengkaran baru.
Cak Nun dengan tegas menyatakan keberatannya terhadap perubahan yang dipaksakan melalui gerakan horizontal. "Semua revolusi horizontal akan menghasilkan kemudaratan, ndak bisa, gak iso. Sing salah paham kakehan, sing memfitnah kakehan," tegasnya.
Ia menilai energi perubahan justru habis untuk saling mencurigai. Yang satu merasa memperjuangkan keadilan, yang lain menuduhnya punya agenda tersembunyi. Karena itu, ia memilih untuk tidak terlibat dalam rencana yang bersifat horizontal dan membawa persoalan tersebut secara vertikal.
"Saya tidak punya rencana apa-apa yang sifatnya horizontal... Tetapi saya mau ikut mengistighosahinya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena kalau Gusti Allah gak ikut, gak bisa," ucapnya.
Ungkapan Cak Nun bahwa "kalau Allah tidak membuat goro-goro, kita tidak bisa apa-apa" jangan dimaknai sebagai ajakan menciptakan kerusuhan. Dalam tradisi pewayangan, goro-goro adalah fase keguncangan yang menjadi pintu perubahan keadaan.
Pernyataan tersebut justru merefleksikan kesadaran bahwa ada perubahan besar yang tidak bisa dipaksakan hanya oleh kehendak dan strategi manusia. Tugas manusia adalah melakukan ikhtiar yang berada dalam kemampuannya: mencerdaskan, mendidik, membangun kesadaran, dan memperbaiki sistem.
Perspektif Sekolah Negarawan menegaskan bahwa tidak melakukan revolusi horizontal bukan berarti berhenti melakukan perubahan. Pekerjaan yang lebih panjang justru harus dilakukan, yakni mempersiapkan manusianya.
Kalau hari ini masyarakat mudah diadu domba, bangun kemampuan berpikirnya. Kalau informasi mudah dipelesetkan, tingkatkan literasinya. Kalau demokrasi menghasilkan pilihan buruk, perbaiki pendidikan politiknya. Kalau kekuasaan tidak diisi orang kompeten, persiapkan calon-calon negarawan yang punya ilmu, integritas, spiritualitas, kebudayaan, dan keberanian.
Kapan sebuah perubahan besar memperoleh momentumnya, manusia tidak pernah sepenuhnya menjadi pengendali sejarah. Ikhtiar tetap berjalan, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan Yang Maha Kuasa.