BULELENG — Ambisi Pemerintah Kabupaten Buleleng untuk menuntaskan masalah jalan rusak dipastikan membentur tembok tebal. Kenaikan harga aspal yang mencapai 50 persen dalam beberapa bulan terakhir membuat anggaran yang sudah dialokasikan tidak lagi mencukupi.
Dampaknya, spesifikasi perbaikan jalan terpaksa diubah. Sejumlah ruas jalan yang semula direncanakan menggunakan lapisan aspal hotmix kini harus beralih ke rabat beton atau paving blok yang lebih terjangkau.
Kenaikan harga aspal dipicu oleh melambungnya harga minyak dunia yang menjadi bahan baku utama aspal. Selain itu, biaya distribusi dan logistik ke daerah seperti Buleleng juga ikut mendongkrak harga di tingkat kontraktor.
Kondisi ini diperparah dengan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang memengaruhi impor aspal. Akibatnya, harga aspal per ton di Buleleng melonjak dari Rp 1,2 juta menjadi sekitar Rp 1,8 juta.
Pemkab Buleleng mempertimbangkan rabat beton sebagai solusi jangka pendek. Material ini dinilai lebih murah dan tahan terhadap beban berat kendaraan logistik yang kerap melintas di jalur perbukitan Buleleng.
Namun, perbaikan dengan beton memiliki kelemahan. Waktu pengerjaan lebih lama dibanding aspal, dan jika tidak dikerjakan dengan presisi, permukaan jalan bisa bergelombang dan tidak senyaman hotmix.
Belum ada angka pasti jumlah ruas jalan yang terdampak perubahan spesifikasi ini. Pemkab Buleleng masih melakukan evaluasi ulang terhadap seluruh proyek perbaikan jalan yang sudah dianggarkan di APBD 2025.
Beberapa ruas jalan di Kecamatan Sawan, Kubutambahan, dan Tejakula masuk dalam daftar prioritas perbaikan. Namun, keputusan akhir soal jenis material masih menunggu hasil lelang ulang proyek.
Pemerintah daerah tengah mengkaji opsi pengajuan tambahan anggaran atau realokasi dari pos belanja lain. Langkah ini ditempuh agar kualitas jalan yang diperbaiki tetap sesuai standar.
“Kami tidak ingin asal jadi. Kalau aspal tidak bisa, ya kami cari material lain yang setara. Yang penting jalan tidak rusak lagi dalam waktu singkat,” ujar pejabat Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Buleleng dalam rapat koordinasi pekan lalu.
Keputusan final soal spesifikasi perbaikan jalan di Buleleng dijadwalkan rampung dalam dua pekan ke depan. Masyarakat berharap jalan rusak di desa-desa segera diperbaiki tanpa mengorbankan kualitas.