BALI — Yogyakarta menyimpan jejak panjang Kerajaan Mataram Islam, dari Kotagede hingga Keraton. Bagi pencinta wisata budaya, lima situs bersejarah ini menawarkan arsitektur klasik dan cerita masa lampau yang sayang dilewatkan. Setiap lokasi punya fungsi asli yang unik, bukan sekadar bangunan tua.
Yogyakarta masih lekat dengan tradisi keraton yang hidup dari tahun ke tahun. Jejak Kerajaan Mataram Islam tersebar di sejumlah titik, mulai dari kota kuno hingga pesanggrahan raja. Berikut lima situs yang bisa jadi rute wisata budaya berikutnya.
1. Kotagede
Kotagede pernah menjadi ibu kota pertama Kesultanan Mataram Islam sekitar 1586–1613 di bawah Panembahan Senopati. Kawasan ini jadi titik awal lahirnya Dinasti Mataram di tanah Jawa. Tata letaknya memadukan konsep Islam dan pra-Islam lewat catur gatra tunggal: masjid, keraton, pasar, dan alun-alun. Kini tersisa reruntuhan benteng tua, Masjid Gedhe Mataram, dan kompleks Makam Raja-Raja Mataram.
2. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Sri Sultan Hamengku Buwono I mulai mendirikan keraton ini beberapa bulan setelah Perjanjian Giyanti 1755, di bekas pesanggrahan Garjitawati. Bangunan rampung dan ditempati pada 1756 sebagai ibu kota Kesultanan Yogyakarta. Arsitektur Jawa klasiknya sarat simbol filosofi Hamemayu Hayuning Bawana. Hingga kini keraton masih merawat naskah kuno, pusaka, tari, gamelan, dan wayang.
3. Situs Taman Sari
Taman Sari dibangun Sri Sultan Hamengku Buwono I sekitar 1758 sebagai taman rekreasi sultan dan kerabat istana. Namanya berarti "taman yang indah". Selain pemandian, kompleks ini dirancang sebagai benteng pertahanan kedua dengan saluran air, danau buatan, dan lorong rahasia bawah tanah. Bagian paling ikonik adalah Sumur Gumuling, bangunan bundar dua lantai yang dulu jadi masjid bawah tanah.
4. Situs Warungboto
Nama aslinya Pesanggrahan Rejowinangun, dibangun Sultan Hamengku Buwono II sejak masih putra mahkota pada masa pemerintahan Hamengku Buwono I. Fungsinya mirip Taman Sari: tempat peristirahatan dan pemandian keluarga kerajaan. Dinding bata tebal, pintu melengkung, dan kolam terbuka dipisahkan aliran Sungai Gajah Wong. Sempat terbengkalai akibat gempa, situs ini sudah dipugar dan kini populer karena arsitekturnya.
5. Panggung Krapyak
Bangunan kubus dua lantai dari bata merah ini didirikan Sri Sultan Hamengku Buwono I sekitar 1760. Dulu berfungsi sebagai pos pengintaian dan tempat istirahat raja saat berburu rusa di Hutan Krapyak. Panggung Krapyak juga jadi titik batas paling selatan Sumbu Filosofi Yogyakarta. Sumbu ini menyimbolkan perjalanan hidup manusia, Sangkan Paraning Dumadi, dari lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta.
Lima situs ini memperlihatkan wajah Yogyakarta dari masa ke masa, dari pusat kekuasaan sampai tempat peristirahatan raja. Menyusuri semuanya jadi cara paling langsung memahami akar budaya Mataram yang masih hidup sampai sekarang.