DENPASAR — Kabar berpulangnya I Gusti Ayu Badri membawa duka bagi keluarga besar mantan Gubernur Bali, Ida Bagus Mantra. Putranya, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, menyimpan kenangan tersendiri terhadap sosok ibundanya yang memulai karier dari dunia pendidikan.
Rai Mantra menyampaikan hal itu saat ditemui di rumah duka, Jumat (11/9). Menurutnya, perjalanan hidup sang ibu tidak bisa dilepaskan dari profesi sebagai guru.
Jejak Awal Karier di SMP Negeri 1 Denpasar
Sebelum mengikuti suaminya melanjutkan studi, I Gusti Ayu Badri sempat mengabdi sebagai pengajar di SMP Negeri 1 Denpasar. Rai Mantra menyebut ibundanya sebagai guru pertama di sekolah tersebut.
"Memang karier beliau itu dilalui dari seorang guru. Jadi guru pertama di SMP 1," kata Rai Mantra.
Selama mengajar, I Gusti Ayu Badri memiliki banyak murid. Sejumlah di antaranya kemudian dikenal sebagai tokoh dan pejabat di Bali.
Murid yang Menjadi Tokoh Bali
Salah satu nama yang dikenang Rai Mantra adalah almarhum I Wayan Dhana, mantan Bupati Badung. Ada pula almarhum I Gusti Gede Aryadi, mantan pengelola Tanah Lot, dan sejumlah murid lain yang turut berperan di daerah.
Bagi Rai Mantra, karakter seorang pendidik tercermin dalam keseharian ibundanya. Nilai-nilai itu pula yang ditanamkan kepada anak-anaknya.
Kisah Pertemuan Orang Tua di Kawasan Kaliasem
Rai Mantra juga menuturkan awal pertemuan kedua orangtuanya yang berkaitan dengan kawasan sekitar SMP Negeri 1 Denpasar. Keluarga I Gusti Ayu Badri memiliki rumah di Jalan Kaliasem, tak jauh dari sekolah itu.
Rumah tersebut juga difungsikan sebagai tempat kos karena kawasan itu merupakan pusat kota pada masa tersebut. Di tempat itulah ayahnya tinggal sebagai anak kos hingga akhirnya berjumpa dengan ibundanya.
Rai Mantra mengaku tidak mengetahui secara pasti aktivitas ayahnya ketika tinggal di kawasan tersebut. Namun ia menyebut kawasan itu dahulu merupakan pusat kota.
Pendidikan Keguruan dan Keputusan Mengikuti Suami
Mengenai latar belakang pendidikan ibundanya, Rai Mantra menyampaikan bahwa I Gusti Ayu Badri menempuh pendidikan keguruan pada masa itu. Ia menyebut pendidikan tersebut sebagai SGB.
Setelah menikah, I Gusti Ayu Badri memutuskan mengikuti sang suami yang melanjutkan pendidikan doktoral di India. Sepulang ke Indonesia, suaminya menjadi dosen di Universitas Indonesia dan selanjutnya mengabdi di Universitas Udayana.
"Jadi kariernya mengikuti suami," ujarnya.
Lahir di Tumpek Krulut, Berpulang di Tumpek Kandang
Rai Mantra mengaitkan perjalanan hidup ibundanya dengan hari kelahiran dan hari terakhirnya. I Gusti Ayu Badri lahir di Tumpek Krulut dan meninggal di Tumpek Kandang.
Kedua hari tersebut, menurutnya, memiliki kaitan dengan warisan pengetahuan dalam tradisi. Ia menilai perjalanan hidup sang ibu sebagai seorang guru layak terus dikenang.
"Saya rasa kariernya seorang guru. Dan lahir dan meninggalnya juga pas di hari yang sangat baik. Jadi itu yang perlu ingin saya sampaikan," ujar Rai Mantra.