BALI — Setahun menjabat, Purbaya tak menampik dirinya sempat dinilai sombong oleh sebagian kalangan karena terlalu vokal memproyeksikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Namun, ia menegaskan pernyataan tersebut bukan tanpa perhitungan, melainkan bagian dari desain untuk membentuk persepsi positif di tengah gejolak politik dan ekonomi saat ia dilantik.
"Dalam waktu dekat kan susah untuk itu. Ya terpaksa saya omong gede, yang dibilang orang sombong, 'itu Purbaya sombong banget'. Itu bukan sombong, tapi desain untuk membentuk ekspektasi ke depan, ke arah yang positif," ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (8/9).
Mengembalikan Kepercayaan Pasca-Demonstrasi Besar
Langkah ini diambil Purbaya pada momen yang tidak mudah. Ia mulai menjabat ketika Indonesia baru saja dilanda gelombang demonstrasi besar yang berpotensi menggerus kepercayaan investor dan konsumen.
"Pertama kan waktu saya jadi menteri, itu kan kita baru menghadapi demo besar. Saya mesti kembalikan confidence ke masyarakat secepat-cepatnya," bebernya.
Menurut Purbaya, ketika ekspektasi pelaku ekonomi positif, mereka akan lebih berani membelanjakan uang, berinvestasi, dan melakukan ekspansi usaha. Sebaliknya, jika kekhawatiran akan resesi mendominasi, keputusan ekonomi cenderung tertahan dan pada akhirnya bisa mewujudkan skenario buruk tersebut.
"Investor tidak takut investasi, masyarakat tidak takut belanja, perusahaan pun tidak takut ekspansi karena mereka pikir ekonomi akan membaik ke depan. Tapi kalau semua berpikir ekonomi akan meresesi, ekonomi bisa betul-betul resesi," jelasnya.
Klaim Pertumbuhan Keluar dari "Kutukan 5 Persen"
Purbaya menilai strategi komunikasi yang ia jalankan mulai membuahkan hasil. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia kini telah keluar dari pola stagnan di kisaran 5 persen yang berlangsung bertahun-tahun.
"Saya pastikan sudah keluar dari kutukan pertumbuhan 5 persen. Triwulan IV tahun lalu kan 5,39 persen, triwulan pertama 5,61 persen, triwulan II 5,29 persen," ujarnya.
Meski pertumbuhan kuartal II sedikit melambat, ia menilai hal itu disebabkan gangguan global. Purbaya optimistis ekonomi akan kembali menguat pada paruh kedua tahun ini dan menyentuh level mendekati 6 persen pada kuartal IV.
"Agak turun sedikit, tapi karena gangguan global. Sekarang siap untuk bergerak ke 6 persen lagi. Mungkin triwulan IV tahun ini bisa mendekati 6 persen," tegasnya.
Berat Badan Turun 14 Kg Selama Menjabat
Di sela-sela pemaparannya, Purbaya juga berbagi cerita soal beban pekerjaannya sebagai Bendahara Negara. Salah satu indikator yang ia tunjukkan adalah perubahan fisiknya.
"Paling gampang kalau lihat berat badan saya kan? Pas jadi menteri saya 102 kilogram, sekarang 97 kilogram atau 98 kilogram, itu sudah recover. Kemudian turun ke 88 kilogram, berarti kerjanya memang berat di Kementerian Keuangan," ungkapnya saat ditemui di kawasan Sunter, Jakarta Utara.
Meski pekerjaan terbilang berat, Purbaya mengaku menikmati perannya. Baginya, kursi Menteri Keuangan adalah laboratorium nyata untuk menguji teori-teori ekonomi yang selama ini ia pelajari sebagai akademisi.
"Kalau untuk ilmuwan seperti saya, ekonom kan ilmuwan, itu paling menarik adalah ketika kita bisa menguji teori-teori di lapangan langsung dan kita lihat hasilnya sesuai dengan apa yang kita prediksi atau yang kita rencanakan," pungkasnya.