BALI — Hirokazu Koreeda kembali menunjukkan kemampuannya meramu emosi lewat Look Back, film adaptasi manga yang tayang perdana di Venice Film Festival. Berbeda dengan karya-karyanya sebelumnya yang berfokus pada dinamika keluarga, film ini justru mengeksplorasi persahabatan dan proses kreatif para seniman.
Dua Gadis, Satu Karya, dan Sebuah Kehilangan
Look Back mengikuti kisah Fujino, siswa kelas empat yang mulai dikenal karena keahliannya menggambar komik strip di sekolah. Popularitasnya terusik oleh kehadiran Kyomoto, seorang siswa agorafobia yang ternyata memiliki bakat luar biasa hingga membuat Fujino hampir menyerah.
Alih-alih menjadi saingan, keduanya justru menemukan bahwa kemampuan mereka saling melengkapi. Fujino unggul dalam narasi, sementara Kyomoto piawai menggambar latar belakang yang detail. Bersama, mereka berkarya dengan nama pena "Fujimoto."
Kerja sama ini memberi Kyomoto kepercayaan diri untuk keluar dari rumah dan melanjutkan pendidikan seni. Namun, jalan cerita berbelok kelam. Keduanya terpisah selamanya oleh sebuah peristiwa, meninggalkan Fujino dengan perasaan kehilangan yang membingungkan. Film ini menghadirkan twist ala Sliding Doors yang menyentuh, memperlihatkan bagaimana Fujino mencoba memproses duka dan kembali berkarya.
Dari Halaman Manga ke Layar Lebar
Koreeda mengaku tidak banyak membaca manga, kecuali karya beberapa pengarang favorit. Ia tidak tumbuh dengan majalah mingguan Shonen Jump seperti generasi Fujimoto. Ketertarikannya pada Look Back justru berawal dari sampul bukunya yang menarik perhatian.
"Saya mengambilnya dan membacanya, dan saya sangat tertarik dengan ceritanya," ujar Koreeda dalam wawancara dengan Deadline di Venice Film Festival. "Ini terjadi sekitar periode pandemi, ketika pekerjaan saya melambat. Cerita ini seolah bercerita tentang apa yang terjadi ketika seniman menghadapi situasi keputusasaan di luar kendali mereka, dan bagaimana mereka bisa mulai berkarya lagi setelah periode itu."
Sang sineas mengaku merasa terhibur dan terinspirasi oleh karya tersebut. Proyek ini mulai berjalan sekitar tahun 2022, saat ia bertemu langsung dengan Fujimoto pada 2023.
Konsistensi di Tengah Ketidakpastian
Look Back menjadi babak lain dalam karier Koreeda yang kerap berpindah genre dan lokasi syuting. Setelah Still Walking (2008) yang memilukan, ia membuat Air Doll (2009) tentang boneka seks yang hidup. Ia juga pernah syuting di Prancis untuk The Truth (2019) dan Korea untuk Broker (2022).
Meski gayanya tenang, karya Koreeda sulit dikategorikan. Ia sempat membuat drama ruang sidang The Third Murder (2017) dan kini menyentuh fiksi ilmiah lewat Sheep in the Box. Namun, ketertarikannya pada relasi antarmanusia, khususnya antara ayah dan anak atau persahabatan, tetap menjadi benang merah.
Perbandingan dengan legenda sineas Yasujir? Ozu kerap muncul, terutama karena fokus Koreeda pada dinamika keluarga. Puncaknya terjadi pada 2018 saat Shoplifters meraih Palme d'Or di Cannes, menempatkannya sejajar dengan Akira Kurosawa dan Shohei Imamura.
Dengan Look Back, Koreeda kembali menegaskan bahwa ia bukan sutradara yang bisa ditebak. Adaptasi manga ini menjadi bukti lain dari kegelisahan artistiknya yang terus mencari cara baru untuk bercerita tentang hal-hal yang paling manusiawi.