BALI — Glodok bukan sekadar pusat elektronik dan perkakas. Kawasan di Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat ini adalah akar sejarah komunitas Tionghoa di Batavia. Berawal dari peristiwa Geger Pecinan pada 1740 yang memaksa etnis Tionghoa menetap di luar tembok kota, Glodok tumbuh menjadi pusat perdagangan yang hidup hingga hari ini.
Kini, kawasan seluas satu kelurahan ini menawarkan perpaduan unik: bangunan tua bergaya kolonial, tempat ibadah kuno, toko obat tradisional yang masih setia pada cara lama, dan deretan kuliner dari berbagai daerah. Satu hari rasanya pas untuk menyusuri sudut-sudutnya.
Jejak Sejarah dan Arsitektur di Setiap Sudut
Mulai penjelajahan dari gerbang utama Glodok di Jalan Pancoran. Di sisi kanan gerbang, berdiri Pantjoran Tea House (Jalan Pancoran No. 4-6), sebuah kedai teh yang menempati bangunan bekas apotek era kolonial. Sejak direvitalisasi pada Desember 2015, tempat ini menjadi favorit untuk menikmati teh sambil melihat foto-foto Jakarta tempo dulu yang terpajang di dinding kaca restoran.
Di sisi kiri gerbang, Tay Seng Ho masih bertahan sebagai toko obat tradisional China. Keunikannya terletak pada proses transaksi dan penimbangan yang masih memakai alat tradisional—timbangan manual dan sempoa. Toko ini juga menjual aneka keripik, kacang, serta camilan tempo dulu yang sudah jarang ditemukan.
Vihara Tua dan Gereja Beratap Pagoda
Kawasan ini memiliki dua tempat ibadah bersejarah yang berdekatan. Vihara Dharma Bakti di Jalan Kemenangan III No. 19 merupakan klenteng tertua di Jakarta. Di dalamnya, lilin-lilin besar menyala dan lampion merah menghiasi langit-langit, menciptakan atmosfer khusyuk yang kontras dengan hiruk-pikuk pasar di luarnya.
Tidak jauh dari sana, Vihara Dharma Jaya Toasebio (Jalan Kemenangan III No. 48 G) menampilkan ukiran naga dan burung phoenix yang detail di bagian atapnya. Tempat ibadah Buddha dan Tao ini termasuk yang tertua di kawasan Pecinan Glodok.
Menariknya, di antara klenteng-klenteng tersebut terdapat Gereja Katedral yang bangunannya merupakan rumah pejabat Tionghoa. Atapnya berbentuk pagoda, sementara interiornya dihiasi kaca patri khas Eropa—perpaduan arsitektur yang jarang ditemui di tempat lain.
Pilihan Kuliner: dari Gang Sempit hingga Food Court
Bagi pencinta kuliner, Glodok menawarkan tiga area utama yang berbeda karakternya. Untuk sensasi menyusuri kios-kios makanan di gang kecil, Gang Gloria dan Gang Kalimati adalah pilihan yang tepat. Di sini, pengunjung bisa mencicipi berbagai jajanan khas China sambil merasakan atmosfer pasar tradisional yang padat.
Jika menginginkan suasana lebih nyaman, Petak Enam di Gedung Chandra (Jalan Pancoran No. 3) menyediakan area food court yang lebih lega. Bangunannya dihiasi lampion China, cocok untuk bersantai setelah berjalan-jalan.
Cara Menuju Glodok dan Tips Berkunjung
Akses menuju Glodok cukup mudah dengan transportasi umum. Dari arah Kota Tua, naik Transjakarta koridor 1 (Jakarta Kota–Blok M) atau koridor 1A (Pantai Maju–Balai Kota), lalu turun di Halte Glodok dan jalan kaki sekitar 4 menit. Alternatif lain, naik KRL dan turun di Stasiun Jakarta Kota, kemudian lanjut berjalan kaki sekitar 12 menit.
Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari sebelum pasar mulai ramai, sekitar pukul 09.00-11.00 WIB. Datanglah dengan pakaian nyaman dan sepatu yang enak dipakai karena area ini lebih banyak dijelajahi dengan berjalan kaki. Untuk informasi jam operasional tempat ibadah dan restoran yang lebih detail, sebaiknya konfirmasi langsung ke pengelola masing-masing.
Dengan jarak antar lokasi yang relatif dekat, Glodok bisa dijelajahi dalam 3-4 jam. Kombinasi sejarah, arsitektur, dan kulinernya menjadikan kawasan ini destinasi yang layak masuk daftar kunjungan saat berada di Jakarta.