Pencarian

BPBD Bali Adopsi Menu Sehat Gizi Karya Poltekkes Denpasar sebagai Logistik Bencana, Disesuaikan per Kelompok Usia

Kamis, 16 Juli 2026 • 21:59:31 WIB
BPBD Bali Adopsi Menu Sehat Gizi Karya Poltekkes Denpasar sebagai Logistik Bencana, Disesuaikan per Kelompok Usia
BPBD Bali mengadopsi menu sehat gizi karya Poltekkes Denpasar sebagai logistik bencana yang disesuaikan per kelompok usia.

DENPASAR — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali tidak lagi hanya mengandalkan makanan instan biasa untuk korban bencana. Menu sehat hasil kajian akademisi kini masuk dalam daftar pilihan logistik darurat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bali Ida Bagus Gede Widnyana menyatakan menu tersebut akan menjadi produk pilihan untuk penyediaan logistik saat bencana. Pihaknya mendorong inovasi ini segera dipatenkan dan diproduksi massal.

“Itu nanti bisa menjadi salah satu produk, yang nanti bisa menjadi pilihan kami di BPBD Bali untuk penyediaan logistik pada saat terjadi bencana,” ucap Widnyana di Denpasar, Kamis.

Kebutuhan Gizi Berbeda Tiap Usia, dari Bayi hingga Lansia

Dosen dan Peneliti Poltekkes Kemenkes Denpasar Anak Agung Nanak Antarini menjelaskan menu sehat ini disusun berdasarkan kebutuhan gizi yang berbeda pada setiap kelompok usia saat darurat.

Bayi 0-6 bulan mendapat prioritas ASI tanpa susu formula kecuali indikasi medis. Bayi 6-24 bulan mendapat MPASI dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) 1.000 kkal. Balita memperoleh biskuit fortifikasi, makanan siap saji, susu UHT, dan bubur instan fortifikasi dengan AKG 1.350 kkal.

Untuk dewasa, menu mencakup makanan siap saji, lauk kaleng, dan mie instan yang dilengkapi protein. AKG wanita 1.900-2.250 kkal dan pria 2.400-2.650 kkal. Ibu hamil mendapat biskuit khusus, susu ibu hamil, dan tablet tambah darah. Lansia diberikan bubur instan, susu tinggi kalsium, dan biskuit tinggi energi dengan AKG 1.800 kkal.

“Menu gizi bencana ini bertujuan membantu masyarakat terdampak bencana mempertahankan status gizi, mencegah kekurangan gizi, serta mengurangi risiko kesakitan dan kematian,” ujar Nanak.

Kampus Siaga Bencana dan Replikasi ke 35 Perguruan Tinggi

Inovasi ini tidak berhenti di Poltekkes Denpasar. LLDikti Wilayah VIII Bali–NTB mendorong temuan ini direplikasi oleh perguruan tinggi lain di kawasan tersebut.

Analis SDM Aparatur Ahli Muda LLDikti Wilayah VIII Pande Putu Suryadinata menilai menu sehat untuk bencana menjadi pengetahuan baru yang dapat diadopsi oleh kampus lain. Menurutnya, kegiatan seperti KKN Tematik bisa memperkuat sinergi antara dunia akademik dan pengurangan risiko bencana.

“Menu sehat untuk bencana ini menjadi pengetahuan baru yang dapat direplikasi oleh perguruan tinggi lainnya,” katanya.

Sebanyak 35 perguruan tinggi berpartisipasi dalam dialog multipihak terkait implementasi Kampus Siaga Bencana (KSB). LLDikti memandang kampus memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dalam membangun budaya kesiapsiagaan.

“Kolaborasi harus terus diperkuat. Kampus memiliki sumber daya, pengetahuan, dan jaringan yang luas,” ujar Pande.

Dari Penelitian ke Produksi Massal: Langkah BPBD Selanjutnya

BPBD Bali mengapresiasi riset ini karena dapat meningkatkan layanan pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya pangan, saat bencana. Fokusnya bukan hanya kuantitas, tetapi juga kualitas gizi.

“Kami sangat mengapresiasi inovasi penelitian ini karena dapat membantu meningkatkan layanan pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya pangan, saat bencana terjadi, tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas gizinya,” ujar Widnyana.

Langkah selanjutnya adalah mendorong produk ini segera diperjualbelikan dan dipatenkan agar bisa diproduksi massal. Dengan begitu, logistik bencana di Bali tidak lagi sekadar mengenyangkan, tetapi juga memenuhi standar kesehatan per kelompok usia.

Bagikan
Sumber: bali.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks