DENPASAR — Rencana itu tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali, Ajrun Karim, menyebutkan bahwa dari total kapasitas baru tersebut, 886,8 MW berasal dari pembangkit EBT, 307,5 MW dari sistem penyimpanan energi (energy storage), dan 1.550 MW dari pembangkit gas sebagai energi transisi.
“Kebutuhan listrik Bali tumbuh hingga 8,02 persen. Ini menunjukkan aktivitas ekonomi di Bali bergerak hampir tanpa henti,” ujar Ajrun dalam acara Indonesia Solar Summit 2026 di The Meru Sanur, Denpasar, Rabu (15/7/2026).
Saat ini, PLN melayani sekitar 1,96 juta pelanggan di Bali dengan beban puncak mendekati 1.300 MW. Ajrun menambahkan, karakteristik kelistrikan Bali berbeda dengan daerah lain karena selisih beban dasar dan beban puncak yang tipis. Artinya, konsumsi listrik tinggi sepanjang hari untuk menopang pariwisata dan industri yang berjalan 24 jam.
Infrastruktur Pendukung: 885 Km Jaringan Transmisi dan Gardu Induk Baru
Selain pembangkit, PLN juga akan memperkuat infrastruktur distribusi. Rencananya, perusahaan membangun 885 kilometer jaringan transmisi, menambah kapasitas gardu induk sebesar 3.320 MVA, serta memperluas jaringan distribusi.
Ajrun menyebut pembangunan ini menjadi fondasi agar sistem kelistrikan Bali lebih tangguh. “Bali merupakan wajah Indonesia di mata dunia. Sistem kelistrikannya harus tidak hanya andal, tetapi juga hijau dan berkelanjutan,” katanya.
Tantangan: Lahan Terbatas dan Kearifan Lokal
Meski ambisius, implementasi RUPTL di Bali menghadapi sejumlah kendala. Ajrun mengakui keterbatasan ruang untuk infrastruktur, aspek estetika kawasan, serta nilai sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Bali menjadi tantangan tersendiri.
“Karena itu, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan sangat penting agar pembangunan ketenagalistrikan selaras dengan karakteristik dan kearifan lokal Bali,” ujarnya.
Dalam forum yang sama, Kepala BRIDA Provinsi Bali, I Gede Putu Udiana Putra, mendorong sinergi pembangunan melalui konsep “1 Pulau, 1 Pola, dan 1 Tata Kelola”. Ia juga menyoroti potensi teknologi energi laut Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC) sebagai sumber energi bersih khas Bali.
Sementara itu, Head of Bali Net Zero Project IESR, Cita Febronia Utami, menekankan pentingnya kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) yang didukung regulasi kuat, investasi, dan pengembangan SDM untuk mencapai target Net Zero Emission 2045.