BALI — Zhipu, perusahaan rintisan kecerdasan buatan yang menjadi primadona di bursa China, masih menghadapi risiko fluktuasi harga yang ekstrem. Penyebabnya, likuiditas sahamnya di pasar tetap tipis meskipun perusahaan baru saja mengantongi dana segar miliaran dolar.
Dana Besar, Free Float Tetap Sempit
Penggalangan dana tahap terbaru Zhipu bernilai USD 4 miliar. Namun, struktur transaksi dan kepemilikan saham yang tidak berubah secara fundamental membuat jumlah saham yang bisa diperdagangkan secara bebas—yang dikenal sebagai free float—tetap sangat terbatas.
Kondisi ini menjadi kekhawatiran utama bagi investor. Saham dengan free float kecil sangat rentan terhadap aksi beli atau jual dalam jumlah besar yang dapat memicu pergerakan harga di luar kewajaran fundamental perusahaan.
Risiko bagi Investor Ritel dan Institusi
Bagi investor, baik ritel maupun institusi, volatilitas tinggi berarti risiko kerugian yang lebih besar dalam waktu singkat. Pergerakan harga saham Zhipu kerap tidak mencerminkan kinerja bisnisnya, melainkan lebih dipengaruhi oleh aliran dana masuk dan keluar dari pemain besar.
Sejak melantai di bursa, saham Zhipu dikenal sebagai salah satu saham dengan pergerakan paling liar di sektor teknologi China. Tanpa peningkatan signifikan pada pasokan saham yang beredar, pola ini diperkirakan akan terus berulang.
Fokus pada Ekspansi AI, Bukan Likuiditas Pasar
Dana segar tersebut rencananya akan digunakan untuk penelitian dan pengembangan model AI generatif serta ekspansi infrastruktur komputasi. Prioritas Zhipu saat ini adalah memperkuat posisinya dalam persaingan ketat dengan raksasa AI global.
Alokasi dana yang tidak dialokasikan untuk pembelian kembali saham (buyback) atau program secondary offering demi menambah free float membuat pasar harus bersabar. Selama tidak ada perubahan kebijakan perusahaan untuk meningkatkan jumlah saham yang diperdagangkan secara publik, risiko fluktuasi harga akan tetap menjadi bayang-bayang bagi pemegang saham Zhipu.
Investasi mengandung risiko.