DENPASAR — Peletakan batu pertama PSEL Denpasar Raya dilakukan bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, CEO Danantara Rosan Roeslani, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, dan Gubernur Bali Wayan Koster. Proyek ini menjadi tonggak pergeseran sistem pengelolaan sampah dari pola kumpul-angkut-buang ke pengolahan modern terintegrasi.
Teknologi Incinerator Bebas Bau dan Aman
CIO Danantara Pandu Sjahrir menjelaskan, PSEL ini menggunakan teknologi moving grate incinerator dengan kapasitas 1.500 ton sampah per hari atau 500 ribu ton per tahun. Fasilitas ini mampu mengurangi kebutuhan lahan tempat pembuangan akhir (TPA) hingga 80 persen.
“Dari sisi energi, PSEL ini akan menghasilkan energi hijau yang mampu memenuhi kebutuhan listrik bagi sekitar 100 ribu rumah tangga di Bali,” kata Pandu dalam laporannya.
Target Pemangkasan Emisi Karbon 640 Ribu Ton Per Tahun
Proyek yang merupakan implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 ini diproyeksikan memangkas emisi karbon sekitar 640 ribu ton CO2 per tahun. Selain itu, pembangunan PSEL menciptakan 1.208 lapangan kerja hijau.
CEO Danantara Rosan Roeslani menegaskan, produksi listrik hanyalah nilai tambah. Esensi utama proyek ini adalah resolusi tuntas masalah lingkungan. “Kita ingin mengubah paradigma bahwa tempat pengolahan sampah itu kotor. Fasilitas ini akan menjadi kawasan yang bersih, aman, bahkan menjadi pusat edukasi masyarakat,” ujarnya.
Listrik untuk 100 Ribu Rumah Tangga dan Keberlanjutan Operasional
Sebagai jaminan keberlanjutan operasional, agenda groundbreaking dirangkaikan dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) bersama PT PLN (Persero). Kesepakatan ini menjadi landasan komersial penyerapan energi hijau dari PSEL Bali ke jaringan listrik nasional.
Gubernur Bali Wayan Koster berharap pembangunan dapat selesai lebih cepat pada akhir tahun 2027. Dengan begitu, persoalan sampah di kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan) bisa tuntas di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai kehadiran PSEL ini strategis untuk memperkuat citra Bali di mata dunia, mengingat isu sampah, kemacetan, air, dan listrik selalu menjadi perhatian wisatawan internasional.