DENPASAR — Ribuan warga dari berbagai unsur memadati Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon, Denpasar, Selasa (7/7) sore, dalam Apel Siaga Pilah Sampah. Kegiatan ini menjadi momentum bagi Gubernur Bali Wayan Koster untuk menegaskan komitmen penyelesaian sampah dari sumbernya.
Koster menyebut pengelolaan sampah bukan sekadar urusan lingkungan, melainkan fondasi ketahanan pangan dan kelestarian alam Bali. “Kita ingin memastikan sampah selesai di tempat dihasilkannya. Baik di rumah tangga, desa, pasar, hotel, restoran, kawasan pariwisata, rumah ibadah, sekolah maupun perkantoran,” ujarnya dalam sambutan.
Paradigma Baru: Sampah Selesai di Sumber, Bukan di TPA
Gubernur menekankan bahwa gerakan ini merupakan implementasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 yang diperkuat Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 9 Tahun 2025 tentang Gerakan Bali Bersih Sampah. Menurutnya, pemilahan sampah adalah perubahan budaya, bukan sekadar teknis memisahkan organik dan nonorganik.
Sampah organik, kata Koster, bisa langsung diolah menjadi pupuk untuk menyuburkan lahan pertanian. Sementara sampah nonorganik dapat didaur ulang sehingga memiliki nilai ekonomi dan tidak mencemari lingkungan. “Small actions, global impact,” tegasnya mengajak seluruh elemen, dari desa adat hingga pelajar, menjadikan pilah sampah sebagai kebiasaan harian.
Bali Juara Ketiga Ketahanan Pangan Nasional, Sampah Jadi PR Besar
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Hanif Faisol Nurofiq yang memimpin apel memberikan apresiasi atas capaian Bali di bidang ketahanan pangan. Berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan Nasional, Bali menempati posisi ketiga terbaik di Indonesia dengan nilai indeks 79,89, setelah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
Bahkan Kabupaten Badung dinobatkan sebagai kabupaten terbaik dalam ketahanan pangan nasional. Namun Hanif mengingatkan bahwa sampah menjadi tantangan besar yang mengancam capaian tersebut. “Bali adalah wajah Indonesia dan destinasi wisata dunia. Karena itu Bali bersih tidak bisa ditawar lagi,” katanya.
Mengapa TPA Suwung Jadi Sorotan?
Hanif secara khusus menyoroti Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung yang pernah mengalami kebakaran besar pada 2023. Sampah organik yang menumpuk di TPA menghasilkan gas metana yang mudah terbakar, terutama saat musim kemarau. “Kita tidak ingin kejadian seperti kebakaran TPA Suwung terulang kembali,” tegasnya.
Ia mendorong seluruh pemerintah kabupaten/kota di Bali mempercepat pembangunan sistem pengelolaan sampah berbasis sumber. Targetnya, persoalan sampah di Bali benar-benar tuntas pada Desember 2026. “Langkah ini memang berat, tetapi menjadi sebuah keniscayaan yang harus diwujudkan bersama,” pungkas Hanif.
Denpasar dan Badung Jadi Contoh Gerakan Pilah Sampah
Menurut data yang dipaparkan Hanif, Bali merupakan provinsi paling masif dalam melakukan aksi pilah sampah di Indonesia. Dua daerah yang paling menonjol adalah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Apel Siaga Pilah Sampah diikuti pelajar SD, SMP, SMA, jajaran Dinas Lingkungan Hidup, TNI, Polri, hingga pemerintah daerah dan masyarakat umum.