DENPASAR — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit yang impresif pada paruh pertama tahun ini. Dana yang disalurkan perbankan berdasarkan lokasi proyek di Bali mencapai Rp 147,64 triliun atau tumbuh 9,14 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Kepala OJK Provinsi Bali, Parjiman, menyebut stabilitas sektor jasa keuangan yang terjaga menjadi ruang bagi perbankan untuk terus berekspansi. Motor utama pertumbuhan ini adalah kredit investasi yang mencatatkan lonjakan hingga 16,82 persen yoy.
Pariwisata Jadi Katalis Utama Pembiayaan
Dinamika ekonomi Bali yang bertumpu pada sektor pariwisata menjadi pendorong utama permintaan pembiayaan. Sektor Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum mencatatkan penambahan nominal kredit terbesar, yakni mencapai Rp 2,10 triliun.
“Pertumbuhan signifikan pada sektor akomodasi dan makan minum mencerminkan geliat sektor pariwisata Bali yang terus menguat. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan kebutuhan pembiayaan dari para pelaku usaha untuk mendukung operasional dan pengembangan kapasitas mereka,” ujar Parjiman dalam keterangannya, Senin.
Lebih dari Separuh Kredit Diserap UMKM
Dukungan terhadap sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi faktor krusial. Sebanyak 51,26 persen dari total kredit di Bali disalurkan ke sektor UMKM. Segmen usaha mikro menjadi yang paling agresif dengan pertumbuhan mencapai 11,10 persen yoy.
Data ini menunjukkan bahwa perbankan tidak hanya membiayai proyek besar, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi warga di tingkat akar rumput.
Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 400 Ribu Lebih
Antusiasme masyarakat Bali terhadap instrumen investasi juga tercatat tinggi. Jumlah investor pasar modal di provinsi ini kini telah menembus angka 404.965 Single Investor Identification (SID), tumbuh double digit sebesar 32,06 persen yoy.
Nilai kepemilikan saham menjadi yang paling menonjol, melonjak 46,85 persen yoy menjadi Rp 8,25 triliun. Sementara itu, produk Reksa Dana mencatatkan pertumbuhan jumlah investor tertinggi secara tahunan, yakni sebesar 31,75 persen yoy.
Kualitas Kredit Terjaga, NPL di Bawah Ambang Aman
Meskipun ekspansi kredit berlangsung agresif, Parjiman memastikan kualitasnya tetap terjaga. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat sebesar 2,60 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tingkat Loan at Risk (LaR) juga berhasil ditekan ke angka 9,47 persen. Angka ini menunjukkan efektivitas penyelesaian restrukturisasi kredit yang dilakukan industri perbankan pasca-pandemi.
“Dengan bauran kebijakan yang tepat, pengawasan yang ketat, serta sinergi yang erat bersama Pemerintah dan pelaku industri, OJK optimis sektor jasa keuangan di Bali akan terus tumbuh secara berkelanjutan, kontributif, dan tetap stabil di tengah tantangan ekonomi ke depan,” demikian Parjiman menutup pernyataannya.