DENPASAR — Ratusan abdi negara dan tokoh masyarakat memadati Pura Pengubengan di kawasan Pura Agung Besakih, Karangasem, untuk mengikuti puncak Pujawali serangkaian Karya Aci yang bertepatan dengan Purnama Sasih Kasa. Kegiatan ini menjadi momentum spiritual bagi jajaran Pemerintah Kota Denpasar untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan sekaligus menjaga harmoni alam.
Prosesi Sakral Diiringi Tabuh dan Tarian Topeng
Sejak pagi, pelaksanaan pujawali berlangsung khidmat. Suara genta, lantunan kidung, dan tabuh tradisional mengiringi setiap tahapan upacara. Tak hanya itu, pementasan topeng dan wayang lemah turut melengkapi rangkaian ritual yang dipuput oleh Ida Pedanda Gede Manu Singaraga dari Griya Sangkan Gunung, Sidemen.
Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara, serta Ketua GOW Kota Denpasar Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa turut hadir dalam persembahyangan bersama.
Ida Bhatara Nyejer Lima Hari, Puncak di Kliwon Langkir
Panitia Pujawali, Jro Mangku Nyoman Artawan, menjelaskan bahwa ritual di Pura Pengubengan digelar setiap tahun bertepatan dengan Purnama Sasih Kasa. Tahun ini, Ida Bhatara Pura Pengubengan nyejer atau bersemayam selama lima hari di lokasi upacara.
“Upacara Penyineban akan dilaksanakan pada Wraspati Kliwon Langkir, Kamis (2/7),” ujar Jro Mangku Nyoman Artawan. Ia berharap seluruh rangkaian upacara membawa berkah bagi alam semesta dan seluruh isinya agar tetap dalam lindungan Tuhan.
Momentum Memperkuat Tri Hita Karana
Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menekankan bahwa pujawali bukan sekadar ritual tahunan. Ia menyebut kegiatan ini menjadi sarana bagi umat Hindu untuk meningkatkan sraddha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
“Dengan pelaksanaan pujawali ini, mari kita tingkatkan sraddha bhakti sebagai upaya menjaga keharmonisan antara parahyangan, pawongan, dan palemahan sebagai implementasi Tri Hita Karana,” ujar Jaya Negara dalam sambutannya.
Konsep Tri Hita Karana yang ia maksud mencakup hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam. Pemkot Denpasar secara konsisten mengikuti ritual ini sebagai bentuk komitmen menjaga keseimbangan spiritual dan ekologis di tengah pembangunan kota.