TABANAN — Puluhan delegasi dari 16 negara mengunjungi kawasan persawahan di Desa Jatiluwih, Jumat (26/6/2026). Mereka datang untuk mempelajari sistem Subak, irigasi tradisional Bali yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
Fokus pada Padi Beras Merah dan Sistem Irigasi Tradisional
Dalam kunjungan itu, para delegasi mengamati secara langsung proses penanaman padi beras merah. Tanaman ini menjadi contoh nyata bagaimana petani Bali memadukan teknologi modern dengan kearifan lokal dalam sistem Subak.
Kegiatan ini merupakan rangkaian program terintegrasi sistem pangan yang diinisiasi FAO. BRIN menjadi mitra lokal dalam forum pertukaran pengetahuan tersebut.
Mengapa Subak Jatiluwih Menjadi Rujukan Dunia?
Subak bukan sekadar sistem irigasi. Ia adalah organisasi sosial budaya petani yang mengatur pembagian air secara demokratis dan berkelanjutan. Kawasan Jatiluwih sendiri dikenal dengan terasering sawahnya yang memukau sekaligus produktif.
Para delegasi dari 16 negara mendapat kesempatan melihat langsung bagaimana sistem ini mampu menjaga keseimbangan ekosistem pertanian di tengah tekanan perubahan iklim.
Forum Internasional untuk Pertukaran Teknologi Padi
Kunjungan lapangan ini menjadi agenda utama forum internasional yang mempertemukan para ahli pertanian dari berbagai negara. Topik utama forum adalah teknologi mutakhir sistem padi yang bisa diintegrasikan dengan praktik tradisional.
FAO bersama BRIN memfasilitasi dialog antara petani lokal, peneliti, dan pembuat kebijakan dari negara-negara berkembang. Tujuannya mencari model pertanian yang adaptif dan berkelanjutan.
Kearifan Lokal Jadi Solusi Ketahanan Pangan Global
Praktik pertanian di Jatiluwih menjadi studi kasus penting. Para delegasi mencatat bagaimana Subak mampu mengelola sumber daya air secara kolektif tanpa mengorbankan produktivitas.
Padi beras merah yang ditanam di kawasan ini juga menjadi perhatian khusus. Varietas lokal ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai alternatif pangan bergizi tinggi.
Kegiatan ini diharapkan mendorong replikasi sistem Subak di negara-negara lain yang menghadapi tantangan serupa dalam pengelolaan irigasi pertanian.