Pencarian

Siklon Tropis Senyar Tewaskan 58 Orangutan Tapanuli, Setara 7% Populasi Global

Senin, 15 Juni 2026 • 13:31:31 WIB
Siklon Tropis Senyar Tewaskan 58 Orangutan Tapanuli, Setara 7% Populasi Global
Orangutan Tapanuli terdampak Siklon Tropis Senyar dengan kematian mencapai 58 individu.

BALI — Angka kematian itu setara dengan 11 persen dari populasi orangutan Tapanuli di wilayah terdampak dan sekitar 7 persen dari total populasi global yang diperkirakan kurang dari 800 ekor. Para peneliti menegaskan bahwa angka tersebut merupakan estimasi konservatif dan belum memperhitungkan kematian tidak langsung akibat rusaknya kanopi hutan serta menurunnya ketersediaan sumber makanan pasca-badai.

Dampak Langsung Cuaca Ekstrem pada Populasi Kritis

Profesor Sergei Vich, ahli primatologi dari Liverpool John Moore University yang menjadi salah satu penulis studi, menyebut peristiwa ini sangat besar dampaknya bagi spesies yang baru diakui secara ilmiah pada 2017 itu. "Tingkat kematian 58 individu dari perkiraan populasi 580 di wilayah tersebut jelas melampaui kapasitas reproduksi dan regenerasi spesies ini," katanya dalam pernyataan kepada BBC.

Sebelum studi ini dirilis, para ahli satwa liar telah mencatat penurunan signifikan dalam penampakan orangutan Tapanuli di habitat aslinya pasca-badai. Banyak dari primata tersebut diduga tersapu arus banjir bandang dan guguran tanah longsor yang dipicu oleh curah hujan ekstrem Siklon Tropis Senyar.

Ancaman Perubahan Iklim dan Seruan Kolaborasi Global

Meskipun siklon ini dikategorikan sebagai peristiwa anomali, para ilmuwan menghubungkan peningkatan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem dengan perubahan iklim global. Studi tersebut mengindikasikan bahwa spesies ini berada dalam bahaya kepunahan jika populasinya mengalami penurunan lebih dari 1 persen dalam kurun waktu satu tahun.

Berdasarkan klasifikasi IUCN Red List, orangutan Tapanuli menyandang status critically endangered atau terancam punah pada tingkat kritis. Dengan populasi liar yang kini diperkirakan kurang dari 800 ekor, setiap kehilangan individu memberikan pukulan telak bagi upaya pelestarian.

Strategi Penyelamatan di Tengah Krisis Iklim

Tim peneliti dalam kesimpulan studinya menyerukan kolaborasi internasional yang kuat dan terpadu untuk melindungi populasi yang tersisa. "Melalui penguatan perlindungan domestik yang efektif, perencanaan adaptasi yang responsif terhadap perubahan iklim, serta dukungan finansial dan teknis dari komunitas global, kita masih memiliki kesempatan untuk mencegah terjadinya kepunahan pertama pada spesies kera besar di era modern ini," tulis mereka.

Perlindungan habitat, penegakan hukum terhadap perburuan liar, dan mitigasi dampak perubahan iklim menjadi pilar utama strategi penyelamatan. Peningkatan kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga keanekaragaman hayati juga dinilai krusial untuk memastikan spesies endemik Sumatra Utara ini tetap lestari di alam liar.

Bagikan
Sumber: tandaseru.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks