BALI — PLN Indonesia Power UBP Adipala terus menggenjot penggunaan biomassa sebagai campuran batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Hasilnya, realisasi pemakaian biomassa pada tahun lalu sukses menembus 107,35 persen dari target yang ditetapkan.
Capaian ini bukan sekadar angka. Di baliknya, ada perluasan jenis bahan bakar yang digunakan, dari serbuk kayu (sawdust) dan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK) di awal, kini bertambah menjadi woodchip, limbah pertanian, hingga Bahan Bakar Berbasis Sampah (BBJP).
“Cofiring biomassa adalah bukti nyata bahwa transisi energi bisa berjalan secara bertahap, realistis, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Bernadus Sudarmanta, Direktur Utama PLN Indonesia Power, Jumat (12/6).
Dari Hutan Energi hingga Limbah Kayu Warga
Di sisi hulu, perusahaan tak hanya mengandalkan pasokan dari industri. Mereka membangun Hutan Tanaman Energi (HTE) seluas lebih dari 100 hektare di lahan yang sebelumnya kurang produktif.
Langkah ini menjadi fondasi pasokan jangka panjang sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Tak berhenti di situ, kerja sama dengan pemasok biomassa lintas daerah dan pemberdayaan masyarakat lewat pengolahan limbah kayu juga diperkuat.
I Wayan Arimbawa, Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Adipala, menekankan pendekatan ekosistem ini menjadi kunci. “Kami terus mendorong peningkatan pemanfaatan biomassa sekaligus memastikan manfaatnya juga dirasakan oleh masyarakat,” jelasnya.
Kualitas Biomassa Ditingkatkan demi Efisiensi
Agar pembangkit tetap efisien, kualitas biomassa tak boleh asal-asalan. PLN Indonesia Power melakukan proses pengeringan untuk menurunkan kadar air, sehingga biomassa menghasilkan panas yang lebih stabil saat dibakar bersama batu bara.
Hasilnya, operasional pembangkit lebih andal dan emisi karbon bisa ditekan. Penurunan emisi yang terverifikasi ini membuka peluang bagi perusahaan untuk ikut dalam skema perdagangan karbon.
Ke depan, PLN Indonesia Power tak hanya fokus menaikkan porsi biomassa di PLTU Adipala. Mereka juga akan memperkuat rantai pasok, berinovasi pada jenis bahan bakar, dan memastikan program ini berkontribusi nyata terhadap target dekarbonisasi nasional. Transformasi energi, bagi mereka, dimulai dari langkah kecil yang konsisten dan memberi dampak langsung ke masyarakat.