BALI — Kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah kembali mengerek harga minyak mentah dunia. Mengutip data Reuters hingga pukul 14.50 WIB, harga Brent Crude naik US$1,02 atau 1,22 persen ke level US$84,79 per barel. Sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat US$0,46 atau 0,57 persen ke posisi US$80,80 per barel.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, buka suara soal dampaknya ke harga energi nasional. Ia menegaskan mekanisme penyesuaian harga BBM non-subsidi di Indonesia sudah terikat dengan pergerakan pasar global.
Mekanisme ICP dan Dampaknya ke Harga BBM Non-Subsidi
Bahlil menyampaikan bahwa acuan yang dipakai pemerintah untuk menghitung harga BBM non-subsidi adalah ICP. Artinya, fluktuasi harga minyak mentah dunia akan langsung berdampak pada harga jual di SPBU untuk produk non-subsidi.
"Ya kan saya dari awal katakan, bahwa menyangkut dengan BBM yang non-subsidi, itu harganya memang akan mengikuti harga pasar dunia, ICP. Jadi kalau harga dunianya turun, dengan sendirinya akan terkoreksi. Tapi kalau naik, pasti juga akan naik," kata Bahlil dalam keterangan resmi yang dikutip pada Selasa (04/08/2026).
Pernyataan ini menegaskan skema lama yang selama ini berjalan. Ketika harga minyak mentah dunia melonjak, potensi penyesuaian harga BBM non-subsidi di dalam negeri menjadi terbuka lebar.
BBM Subsidi Dipastikan Tetap, Ini Alasannya
Di tengah tekanan kenaikan harga minyak dunia, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak berubah. Bahlil secara eksplisit menyatakan bahwa masyarakat pengguna BBM bersubsidi tetap memperoleh harga sesuai kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah.
Langkah ini menjadi bantalan bagi daya beli masyarakat di tengah volatilitas pasar energi global. Dengan begitu, beban kenaikan harga minyak mentah tidak serta-merta ditransfer penuh ke konsumen pengguna BBM subsidi.
Adapun penyebab utama kenaikan harga minyak dunia kali ini dipicu oleh ketidakpastian diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Meski sehari sebelumnya sempat terkoreksi, pasar kembali merespons potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah yang merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
Para pelaku pasar kini mencermati perkembangan ini karena berpotensi memengaruhi biaya energi, aktivitas perdagangan komoditas, serta ekspektasi terhadap harga BBM di berbagai negara, termasuk Indonesia.