DENPASAR — Sekaa Teruna-Teruni (STT) Satya Dharma Laksana Banjar Abian Kapas Kelod menggagas festival ini sebagai ruang ekspresi seniman muda yang peduli pada pelestarian budaya Bali. Pembukaan ditandai pemukulan gong oleh Wawali Arya Wibawa, disaksikan Anggota DPRD Kota Denpasar I Made Mudra, Camat Denpasar Timur Ketut Sri Karyawati, serta tokoh masyarakat setempat.
Empat Kategori Lomba untuk Seniman Muda
Panitia membuka empat kategori perlombaan yang dirancang untuk mengakomodasi berbagai bentuk kreativitas. Lomba Ogoh-Ogoh Mini Kategori Mesin, Lomba Ogoh-Ogoh Mini Kategori Non-Mesin, Lomba Tapel Ogoh-Ogoh, dan Lomba Sketsa Ogoh-Ogoh menjadi ajang unjuk kebolehan para peserta.
Ketua Panitia Wayan Gagas Pradita Putra mengatakan festival ini didedikasikan untuk menjaga identitas budaya Bali melalui seni ogoh-ogoh. "Melalui festival ini kami ingin memberikan ruang bagi para seniman muda untuk menunjukkan kreativitasnya sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya Bali," ujarnya.
Apresiasi Pemkot Denpasar untuk Inisiatif Pemuda
Wakil Wali Kota Arya Wibawa menyampaikan apresiasi tinggi kepada STT Satya Dharma Laksana sebagai inisiator acara. Menurutnya, festival ini bukan sekadar kompetisi, melainkan wadah krusial untuk memupuk persatuan dan kecintaan pemuda terhadap akar budaya Bali.
"Kami sangat mengapresiasi semangat dan kreativitas para pemuda yang telah mampu menghadirkan kegiatan positif seperti ini. Festival ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkarya, berkolaborasi, serta menjaga warisan budaya Bali agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman," ujar Arya Wibawa.
Ia berharap Abian Kapas Klodan Festival bisa terus digelar secara berkelanjutan sebagai agenda tahunan. Tujuannya memotivasi generasi muda agar terlibat aktif dalam pelestarian seni budaya, sekaligus mempererat tali persaudaraan antar-pemuda di Bali.
Dewan Juri Ahli dan Antusiasme Masyarakat
Untuk memastikan penilaian berjalan objektif, panitia mempercayakan proses kurasi kepada tiga dewan juri yang sudah dikenal luas di kalangan seniman ogoh-ogoh Bali: Cenk Cenk Bero, Gusman Surya, dan Dwi Aga. Suasana di lokasi festival tampak hidup, dipenuhi riuh antusiasme masyarakat yang ingin melihat langsung pameran mini ogoh-ogoh dengan beragam tema karakter unik.
Festival ini menjadi bukti bahwa seni tradisi ogoh-ogoh tetap relevan di kalangan generasi muda Bali. Lewat format mini dan beragam kategori, kreativitas seniman muda mendapatkan ruang apresiasi yang layak.