Pencarian

Bukan Sekadar Tawar-menawar Tarif, Ini Filosofi di Balik Lahirnya inDrive dari Suhu -40°C

Rabu, 03 Juni 2026 • 00:07:03 WIB
Bukan Sekadar Tawar-menawar Tarif, Ini Filosofi di Balik Lahirnya inDrive dari Suhu -40°C
Sopir dan penumpang inDrive bernegosiasi langsung menentukan tarif perjalanan secara transparan.

BALI — Semua bermula dari ketidakadilan. Saat suhu di Yakutsk, salah satu kota terdingin di dunia, anjlok ke bawah -40°C pada 2012, perusahaan taksi setempat menaikkan tarif secara sepihak. Warga yang menggantungkan hidup pada transportasi umum tak punya pilihan lain.

Sekelompok mahasiswa kemudian bergerak. Mereka membuat grup media sosial bernama "Independent Drivers" (sopir independen) sebagai wadah negosiasi langsung antara penumpang dan pengemudi. Ide sederhana ini—transparansi harga dan kebebasan memilih—menjadi cikal bakal inDriver yang kini menjelma menjadi inDrive.

Kenapa Model Negosiasi Bisa Relevan di Indonesia?

Di tengah dominasi raksasa ride-hailing yang menggunakan algoritma tarif otomatis, inDrive menawarkan sistem yang berbeda. Penumpang bisa memasukkan harga yang mereka anggap wajar untuk suatu rute. Sopir punya tiga opsi: menerima, menolak, atau menawar balik dengan harga lebih tinggi.

Setelah beberapa sopir merespons, penumpang bebas memilih berdasarkan kriteria harga, rating sopir, jenis kendaraan, atau jarak kedatangan. Tak ada paksaan. Tak ada kenaikan harga mendadak saat hujan deras atau jam sibuk. Harga yang disepakati di awal adalah harga yang dibayar.

Bagi pengemudi, model ini juga menguntungkan. Potongan komisi yang dikenakan platform hanya berkisar 10% hingga 15%, lebih rendah dibanding kompetitor yang bisa memotong 20% hingga 25%. Artinya, pendapatan bersih yang dibawa pulang sopir lebih besar, meski tarif yang disepakati mungkin lebih rendah dari harga pasar.

Keamanan Tetap Jadi Prioritas

Meski mengusung sistem tawar-menawar, fitur keselamatan tidak dikesampingkan. Pengguna dapat membagikan lokasi perjalanan secara real-time kepada keluarga atau teman. Proses negosiasi yang personal justru menciptakan interaksi lebih manusiawi antara penumpang dan sopir.

Di Indonesia, kehadiran inDrive menjadi angin segar bagi konsumen yang mulai jenuh dengan tarif standar aplikator besar. Budaya tawar-menawar yang sudah mengakar kuat di masyarakat membuat model "Real-Time Deals" ini terasa akrab. Pertumbuhan pengguna yang masif membuktikan bahwa pasar lokal siap dengan alternatif ini.

inDrive kini telah berekspansi ke lebih dari 700 kota di 45 negara. Dari sebuah grup media sosial di kota beku Rusia, platform ini tumbuh menjadi simbol perlawanan terhadap algoritma yang kerap tak berpihak pada manusia.

Bagikan
Sumber: mawar#4192

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks