DENPASAR — Penghargaan ini diberikan setelah tim redaksi Tribun Bali melakukan penilaian terhadap kinerja pemda dalam mengendalikan inflasi, menekan angka kemiskinan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika nasional dan global. Data terbaru menunjukkan ekonomi Bali tumbuh 5,58 persen pada triwulan I 2026.
Ekonomi Bali Bangkit dari Kontraksi Akibat Pandemi
Gubernur Wayan Koster menyebut capaian ini tidak datang tiba-tiba. Ekonomi Bali sempat minus 9,31 persen pada 2020 akibat pandemi COVID-19. Setahun kemudian perlahan membaik 1,46 persen, lalu tumbuh 4,3 persen di 2022, hingga mencapai 5,82 persen pada 2025.
“Bali berada nomor lima di Indonesia ekonominya paling baik. Nomor empat sampai di atasnya merupakan daerah penghasil tambang,” ujar Koster dalam sambutannya. Ia menegaskan kontribusi terbesar ekonomi Bali justru dari sektor pariwisata, bukan sumber daya alam tambang.
Pariwisata Sumbang Devisa Rp 176 Triliun pada 2025
Pada 2025, jumlah wisatawan mancanegara ke Bali mencapai 7,05 juta orang, naik dari 6,33 juta orang pada tahun sebelumnya. Sektor pariwisata menyumbang devisa Rp 176 triliun atau 55 persen dari total penerimaan daerah.
“Pulau Bali yang kecil bisa memberikan kontribusi secara ekonomi karena daya tariknya: kekayaan dan keunikan seni budaya Bali,” jelas Koster. Ia menambahkan, tanpa desa adat, budaya Bali tidak bisa dirawat secara utuh. “Bali satu-satunya provinsi di Indonesia yang mampu melestarikan desa adat.”
Transformasi Ekonomi Kerthi Bali: Tak Hanya Pariwisata
Di periode keduanya, Koster mendorong Transformasi Ekonomi Kerthi Bali yang tidak bertumpu pada pariwisata saja. Sektor pertanian, kelautan, perikanan, industri kecil dan menengah, UMKM, koperasi, serta ekonomi kreatif dan digital mulai diperkuat.
“Saya harus kerja lebih cepat dan kerja lebih keras agar bisa meletakkan pondasi yang kokoh untuk Bali sesuai Haluan Pembangunan Masa Depan Bali 100 Tahun Bali Era Baru,” kata Gubernur asal Desa Sembiran, Buleleng ini. Masa jabatannya akan berakhir pada 20 Februari 2030.
Penghargaan Bukan Tujuan Utama
Koster mengaku tidak mencari penghargaan. “Terus terang saja, yang harus dilakukan lebih banyak ialah mengutamakan kerja dari pada atribut penghargaan. Bukan ini yang dicari, tapi kerja untuk Bali dan masyarakat Bali,” ujarnya.
Sementara itu, CEO Tribun Network Dahlan Dahi menjelaskan bahwa penghargaan diberikan setelah pihaknya menilai kontribusi nyata pemerintah daerah, swasta, dan individu dalam membangun kemajuan daerah. “Kita lihat seberapa besar kontribusinya dalam berbuat mulia kepada masyarakat,” jelas Dahlan.