BULELENG — Angka 10,576 ton per hektare itu terbilang janggal untuk lahan tadah hujan di musim kemarau. Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna menyebut capaian tersebut sebagai hal yang jarang ditemui di wilayahnya selama ini.
Panen bersama di Balai Benih Grokgak menjadi penanda berakhirnya uji coba penanaman Bridantara 8 di lahan seluas lima hektare. Lahan tersebut milik Pemerintah Kabupaten Buleleng dan digarap bersama petani sekitar.
Uji coba Bridantara 8 melibatkan Pemkab Buleleng, Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN), Bank Indonesia Provinsi Bali, serta kelompok petani. Sinergi lintas sektor itu disebut menjadi kunci keberhasilan panen di tengah keterbatasan air.
"Ini capaian yang luar biasa. Selama ini, kita jarang menemukan varietas padi yang mampu menghasilkan lebih dari 10 ton per hektare di Buleleng. Hasil ini menunjukkan besarnya potensi varietas unggul Bridantara 8 untuk meningkatkan produktivitas pertanian," ujar Gede Supriatna.
Supriatna menegaskan penguatan sektor pertanian tidak cukup berhenti pada hasil panen. Ketersediaan benih bermutu, pupuk, pasokan air, alat dan mesin pertanian (alsintan), adopsi teknologi, hingga tata kelola pascapanen dan pemasaran harus diperkuat secara terintegrasi.
Ia juga menyoroti perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Menurutnya, lahan produktif perlu dijaga agar tidak beralih fungsi di tengah tekanan pembangunan.
Panen raya di Gerokgak dirangkaikan dengan penyerahan sarana dan prasarana pertanian kepada sejumlah subak. Bantuan diserahkan langsung kepada pengurus subak penerima.
Bantuan alsintan itu menyasar subak yang selama ini mengandalkan tenaga manual saat panen. Mini combine harvester disebut memangkas waktu dan biaya panen di lahan sempit.
Dewan Pembina YSPN Akmal Malik menilai keberhasilan uji coba Bridantara 8 layak direplikasi sebagai model pengembangan pertanian yang lebih luas. Menurutnya, capaian di musim kemarau membuktikan inovasi benih bisa menutup keterbatasan iklim.
"Bayangkan, dalam kondisi kemarau saja kita bisa menghasilkan sekitar 10,5 ton per hektare. Ini membuktikan bahwa dengan inovasi, kerja bersama, dan komitmen yang kuat, peningkatan produksi pangan bukan sesuatu yang mustahil," tegas Akmal.
Akmal menekankan kemandirian pangan memerlukan gotong royong pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, yayasan, hingga petani. Inovasi di sektor agraris, katanya, harus sampai manfaatnya ke masyarakat luas.
Hadir mendampingi dalam kegiatan tersebut Sekda Buleleng Gede Suyasa, Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya, Dandim 1609/Buleleng Letkol Inf Achmad Setyawan Syah, Kepala Dinas Pertanian Buleleng Gede Melandrat, dan Camat Gerokgak I Gede Arya Rimbawa Giri.
Pemkab Buleleng optimistis capaian Bridantara 8 bisa diperluas ke lahan lain. Perluasan pemanfaatan benih unggul disebut menjadi jalan memperkuat ketahanan pangan Bali dan swasembada nasional.