BALI — Konflik antara Troy Aikman dan ESPN menjadi salah satu cerita paling ramai di NFL musim ini, tepat saat Disney bersiap menggelar Super Bowl pertamanya sejak 2006. Aikman memasuki tahun terakhir kontraknya, sementara rekannya Joe Buck sudah meneken kontrak baru yang mahal. Situasi ini memunculkan pertanyaan soal masa depan duo komentator yang sudah menjadi wajah liputan NFL selama bertahun-tahun.
NFL boleh jadi raja konten televisi, tetapi drama di luar lapangan justru mendominasi perbincangan sepanjang musim ini. Pemicunya adalah perselisihan yang dilaporkan terjadi sebelum laga Los Angeles Rams melawan Buffalo Bills di SoFi Stadium, dan lokasinya berada di bilik siaran ESPN.
Joe Buck, komentator play-by-play utama ESPN, telah menandatangani kontrak baru bernilai besar. Troy Aikman, partner analisnya selama bertahun-tahun, belum menyepakati perpanjangan. Laporan soal ketegangan di antara keduanya pun mencuat, meski di layar kedua pria itu tetap tampil profesional.
Mantan quarterback Dallas Cowboys itu membuka suara soal masa depannya di media. Dalam wawancara di The Mike Fisher Show, Aikman mengaku tidak pernah bercita-cita masuk televisi dan bergabung karena tawaran Fox Sports.
"Saya tidak tahu apakah kalau mereka tidak merekrut saya, saya akan mendapat kesempatan di tempat lain. Dan di sini saya, 25 tahun kemudian, kini di tahun terakhir saya di ESPN, saya menyadari ini adalah sesuatu yang bisa saja diambil dari saya," ujar Aikman.
Ia menambahkan bahwa risiko kehilangan pekerjaan membuatnya baru benar-benar menghargai profesi ini. "Untuk pertama kalinya mungkin dalam karier saya, saya menyadari ini profesi yang hebat, perjalanan yang luar biasa, dan saya harap ini belum berakhir," lanjutnya.
Executive VP dan chief media officer NFL Hans Schroeder menegaskan liga tidak khawatir dengan kebuntuan kontrak tersebut. Ia justru memuji kualitas siaran keduanya pada laga Monday Night.
"Saya tidak tahu apakah Anda menonton laga Senin malam itu. Laga yang luar biasa, dan liputan luar biasa dari Joe dan Troy, seperti yang selalu mereka lakukan," kata Schroeder di hadapan jurnalis di InterContinental Barclay Hotel, Midtown Manhattan.
Schroeder menyebut penggemar berhak mendapat produksi kelas satu, dan menilai Buck-Aikman punya rekam jejak panjang untuk itu. Pernyataan ini muncul saat Disney bersiap menjadi tuan rumah Super Bowl pertamanya sejak 2006, dengan keduanya dijadwalkan memimpin siaran dan turut ambil bagian dalam pemasaran acara.
Kasus ESPN hanyalah satu dari sekian gejolak yang menerpa jajaran komentator NFL tahun ini. Di CBS, Tony Romo diturunkan dari bilik siaran setelah penangkapan saat pramusim terkait tuduhan mengemudi dalam pengaruh alkohol (OWI).
JJ Watt ditunjuk sebagai pengganti permanen Romo pekan lalu lewat perpanjangan kontrak multiyear. Chief Skydance Sports David Berson memuji Watt sebagai sosok yang "berwawasan, menghibur, bersemangat, teliti dalam persiapan, dan rekan tim terbaik".
Greg Olsen memasuki tahun terakhir kontraknya di Fox dan tengah mencari tempat baru. Nama-nama seperti Travis Kelce dan Sean McVay juga disebut-sebut sebagai kandidat talenta televisi dalam pembicaraan dengan agen dan eksekutif jaringan.
Sumber senior NFL menyebut liga tidak mengatur keputusan personel mitra siarannya secara mikro. Meski begitu, kontrak hak siar NFL mensyaratkan kualitas produksi tertentu, termasuk bilik komentator kelas utama yang mampu menyajikan siaran setara standar liga dan penontonnya.
Patokan itu memang kabur, tetapi membuka ruang bagi format alternatif seperti Manningcast dan McAfeecast untuk terus berkembang. Bagi liga maupun mitra hak siarnya, perbincangan soal kualitas siaran disebut berlangsung terus-menerus.
Di tengah semua itu, duel Buck dan Aikman di bilik siaran tetap jadi taruhan reputasi bagi ESPN dan Disney menjelang Super Bowl. Industri penyiaran olahraga Tanah Air bisa membaca pola serupa: nilai komentator kini sebanding dengan nilai pertandingannya sendiri.