Badung Bagi Tiga Zona Wisata, Kejar Kualitas Bukan Sekadar Jumlah Kunjungan

Penulis: Candra Setiabudi  •  Senin, 26 Oktober 2026 | 06:16:31 WIB
Kepala Bidang Promosi Dispar Badung Ketut Widinegara menyampaikan pembagian tiga zona wisata Badung.

MANGUPURA — Kepala Bidang Promosi Dinas Pariwisata Kabupaten Badung Ketut Widinegara menyatakan pembagian zona itu menjadi dasar perluasan promosi ke wilayah tengah dan utara. Selama ini, kata dia, kawasan selatan Badung masih mendominasi aktivitas pariwisata.

“Kawasan selatan diarahkan untuk hiburan dan akomodasi, wilayah tengah untuk budaya dan kesenian, sedangkan wilayah utara dikembangkan melalui konsep ekowisata,” ujar Widi pada Minggu (25/10).

Barong Festival 6–7 November 2026 di Taman Ayun Masuk Kharisma Event Nusantara

Pengembangan kegiatan dan event pariwisata menjadi salah satu strategi memperkuat daya tarik Badung. Pemerintah mendorong penyelenggaraan event berkelanjutan yang memberi dampak nyata bagi masyarakat dan perekonomian daerah.

“Salah satu agenda yang disiapkan adalah Barong Festival pada 6–7 November 2026 di Taman Ayun, yang masuk dalam program Kharisma Event Nusantara (KEN). Festival ini diharapkan memperkuat promosi seni dan budaya sekaligus menambah daya tarik wisata Badung,” jelas Widi.

Post Tour dan Farm Trip Libatkan Pelaku Industri dari India dan Asia Timur

Untuk memperkenalkan potensi wilayah tengah dan utara, Dispar Badung menjalankan program post tour dan farm trip. Peserta diajak mengunjungi sejumlah destinasi seperti Sangeh, Taman Ayun, serta desa wisata, agar mengenal langsung daya tarik, pelayanan, dan pengalaman wisata yang ditawarkan.

Pelaku industri perjalanan yang dilibatkan berasal dari India dan Asia Timur. Widi menyebut wilayah Sulangai juga memiliki peluang pengembangan melalui potensi pertanian, air terjun, jalur tracking, dan desa wisata.

“Pengembangan tetap memerlukan kesiapan fasilitas, keselamatan, pelayanan, dan keterlibatan masyarakat setempat,” ungkapnya.

Ukuran Keberhasilan Tidak Cukup dari Jumlah Kedatangan

Widi menegaskan keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah kedatangan wisatawan. Pemerintah juga perlu memperhatikan lama tinggal, pengeluaran wisatawan, kepedulian terhadap lingkungan, serta penghormatan terhadap budaya lokal.

Pembinaan terhadap pengelola destinasi terus dilakukan, mencakup keselamatan, manajemen risiko, pelayanan, dan penerapan sistem tiket elektronik. Dispar Badung juga berkoordinasi dengan perangkat daerah dan pemangku kepentingan untuk menangani persoalan yang memengaruhi kenyamanan wisatawan.

“Kami juga berkoordinasi dengan perangkat daerah dan pemangku kepentingan untuk menangani persoalan yang memengaruhi kenyamanan wisatawan,” katanya.

Kemacetan dan Sampah Jadi Perhatian Jelang Musim Liburan Akhir Tahun

Menghadapi musim liburan akhir tahun, kesiapan infrastruktur, kemacetan, dan sampah tetap menjadi perhatian. Penanganan persoalan tersebut membutuhkan koordinasi lintas instansi, termasuk dukungan pembangunan jalan dan pengelolaan lingkungan.

“Pola kunjungan wisatawan ke Bali cenderung meningkat pada Juli dan Agustus, kemudian melandai hingga November sebelum kembali naik pada Desember,” ucapnya.

Di sisi promosi, Dispar Badung membuka peluang kolaborasi dengan pelaku industri, tokoh pariwisata, dan pembuat konten untuk menyampaikan informasi yang lebih akurat mengenai kondisi destinasi.

“Kami berharap Badung tidak hanya dikenal melalui kawasan selatan, tetapi juga melalui kekayaan alam dan budaya di wilayah tengah dan utara yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi lebih merata bagi masyarakat lokal,” pungkasnya.

Reporter: Candra Setiabudi
Sumber: balipost.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top