Mobil Listrik Bekas China ke Eropa Naik 280 Persen, Baru Justru Anjlok 44 Persen

Penulis: Agus Hermawan  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:46:31 WIB
Penjualan mobil listrik bekas asal China ke Uni Eropa naik 280 persen menjadi 7.900 unit pada Januari–September 2026.

BALI — Penjualan mobil listrik bekas asal China ke Uni Eropa melonjak 280 persen menjadi 7.900 unit sepanjang Januari–September 2026. Pada periode yang sama, impor mobil listrik baru China ke Eropa merosot 44 persen. Celah regulasi bea masuk membuat kendaraan bekas jadi jalur masuk yang lebih murah.

Platform penjualan China EV Marketplace (CEVM) mencatat lonjakan tajam itu dalam laporannya yang dikutip CarNewsChina, Kamis (22/10). Angka 7.900 unit untuk sembilan bulan pertama 2026 jauh di atas capaian periode sama tahun sebelumnya. Sementara arus mobil listrik baru berbasis baterai (BEV) justru menyusut hampir setengahnya.

Bea Imbalan Hanya Menyasar Mobil Baru

Dokumen Komisi Eropa mendefinisikan produk yang dikenai bea imbalan sebagai BEV baru, tanpa pernyataan eksplisit soal kendaraan bekas. Laporan soal kuota hybrid yang ditelusuri juga tidak menyebut mobil bekas sebagai objek pembatasan.

Kondisi itu dimanfaatkan CEVM. Chief Operating Officer CEVM Jakub Geršl menyebut mobil bekas tidak terkena tarif tambahan BEV maupun kuota hybrid, sehingga perusahaannya menjadikan segmen ini fokus bisnis di Eropa.

"Tarif sudah melemahkan permintaan BEV baru China di antara pelanggan Eropa CEVM," ujar Geršl.

Stok 2.600 Unit, Mulai Xiaomi sampai BYD

CEVM menawarkan lebih dari 2.600 EV bekas di platformnya. Merek yang tersedia antara lain Xiaomi, BYD, iCar, Denza, Lynk&Co, dan Avatr.

Tim CEVM di Shanghai disebut rutin menemukan mobil dengan jarak tempuh sekitar 6.000 km yang dibanderol 40 persen di bawah harga resmi di China. Selisih harga itu yang kemudian menjadi daya tarik utama bagi pembeli Eropa.

Beban Tarif di Atas Bea Masuk 10 Persen

Komisi Eropa menetapkan bea imbalan atas BEV buatan China selama lima tahun sejak 30 Oktober 2024. Besarannya bervariasi tiap produsen: Tesla Shanghai 7,8 persen, BYD 17 persen, Geely 18,8 persen, dan SAIC 35,3 persen.

Firma hukum Cleary Gottlieb menyebut bea itu dikenakan di atas bea masuk UE untuk mobil sebesar 10 persen. Jika dijumlahkan, tarif tertinggi bisa mencapai 45,3 persen. Angka itu menjelaskan mengapa mobil baru kehilangan daya saing, sementara unit bekas tetap masuk tanpa beban serupa.

Kuota Hybrid 350.000 Unit per Tahun

UE dan China juga menyepakati pembatasan impor mobil hybrid China sebanyak 350.000 unit per tahun. Kesepakatan itu diumumkan pada Jumat (9/10) setelah pembicaraan di Beijing.

Dikutip Automotive World, Senin (12/10), batas tersebut naik 6 persen per tahun mulai tahun kedua dan berlaku empat tahun. Cakupannya meliputi hybrid biasa serta plug-in hybrid (PHEV). Mobil merek China yang dirakit di dalam UE tidak masuk kuota, sedangkan hybrid merek Eropa yang diproduksi di China tetap dihitung.

Komisi Eropa memperkirakan impor hybrid China tahun ini mencapai 800.000 unit. Komisioner Perdagangan UE Maroš Šef?ovi? menyebut kesepakatan itu membuka peluang memangkas ekspor China lebih dari separuh. Kementerian Perdagangan China mencatat impor 2025 sebanyak 302.000 unit dan menilai kuota masih memberi ruang pertumbuhan sekitar 16 persen.

Nilai Jual Kembali Masih Jadi Pertimbangan

Bagi konsumen Eropa, harga murah bukan satu-satunya faktor. Laporan China Automobile Dealers Association (CADA) dan Jingzhengu edisi September 2026 menempatkan Tesla Model 3 sebagai pemimpin retensi nilai EV berusia tiga tahun di China dengan 61,4 persen, artinya nilai yang hilang 38,6 persen.

Model X menyusul di posisi kedua dengan 59,5 persen dan Model Y 53,9 persen. BYD Seagull menjadi merek China tertinggi di posisi keempat dengan 50,5 persen. Data itu memberi gambaran bahwa selisih harga awal tak otomatis berarti biaya kepemilikan lebih rendah dalam jangka panjang.

Reporter: Agus Hermawan
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top