BALI — Subaru memastikan menghentikan penjualan seluruh mobil berbahan bakar bensin di Eropa paling lambat akhir 2027, lebih cepat dari target banyak merek lain. Keputusan diambil karena aturan emisi CO2 dan sistem keselamatan wajib Uni Eropa yang makin ketat, meski pangsa pasar Subaru di sana hanya 0,2 persen tahun lalu.
Subaru menyampaikan konfirmasi tersebut kepada media Jerman, Auto Motor und sport. Angka penjualan merek ini di Benua Biru sepanjang tahun lalu hanya sekitar 23.000 unit. Meski kecil, model seperti Outback dan WRX punya penggemar fanatik di kalangan penggemar off-road dan tuning, sehingga hilangnya mesin boxer dari pasar Eropa tetap punya bobot simbolis.
Model Bensin yang Pensiun Duluan
Outback menjadi model bensin pertama yang dihentikan penjualannya di Eropa pada akhir tahun ini. Setelah itu, Impreza, Crosstrek, dan Forester menyusul sepanjang 2027.
Mulai 2028, Subaru hanya akan menjual tiga model di Uni Eropa, semuanya listrik: Solterra, E-Outback (dikenal sebagai Trailseeker di Amerika Serikat), dan Uncharted. Ketiganya dikembangkan bersama Toyota dan berbasis platform bZ4X, bZ4X Touring, serta C-HR+.
Aturan Uni Eropa yang Memaksa
Alasan utama peralihan ini adalah regulasi emisi armada CO2 yang ketat. Uni Eropa mewajibkan mobil yang diproduksi 2025–2034 rata-rata menghasilkan 93,6 gram CO2 per kilometer, turun 15 persen dari level 2021.
Blok tersebut juga mewajibkan semua mobil penumpang dan van dilengkapi Advanced Driver Distraction Warning (ADDW) serta pengereman darurat yang ditingkatkan mulai 7 Juli 2026. Bagi merek sekecil Subaru, memenuhi dua tuntutan sekaligus dengan lini mesin bensin yang ada bukan pilihan realistis.
Kembangkan Teknologi EV Sendiri
Subaru mengumumkan akan mengembangkan teknologi EV secara mandiri, terpisah dari Toyota, untuk generasi mobil listrik berikutnya. Platform baru mereka mencakup baterai anyar, teknologi motor listrik, dan unit kontrol terintegrasi untuk pembaruan over-the-air.
"Dengan mengembangkan kendaraan secara in-house dan memiliki teknologi EV sendiri, kami bisa dengan cepat memberikan ketenangan pikiran dan kenikmatan berkendara yang menjadi ciri Subaru, bahkan di era perubahan ini," kata Takatomo Watamori, VP of Engineering Subaru.
Dampak ke Pasar Indonesia
Kebijakan ini khusus berlaku untuk Eropa dan belum menyentuh lini bensin Subaru di pasar lain, termasuk Indonesia. Pengguna lokal yang mengandalkan Forester atau Crosstrek berbahan bakar bensin belum perlu khawatir kehabisan unit dalam waktu dekat.
Namun sinyalnya jelas: Subaru sedang menata ulang portofolio globalnya ke arah elektrifikasi. Bagi calon pembeli di Tanah Air yang mempertimbangkan model listrik Subaru, keputusan Eropa ini jadi indikasi bahwa pasokan kendaraan listrik merek tersebut akan bertambah dalam beberapa tahun ke depan.