TABANAN — Kabut putih menyelimuti wilayah Tabanan, Bali, termasuk Jalan Bypass Kediri serta kawasan Gubug dan Yeh Gangga, Kecamatan Kerambitan, pada Rabu (21/10/2026). Kondisi itu memunculkan spekulasi warga bahwa kabut tersebut merupakan asap karhutla.
Kepala Stasiun Klimatologi Bali Aminudin Al Roniri menepis anggapan tersebut. Ia menyebut fenomena yang terekam dalam video viral itu sebagai kabut adveksi, bukan asap pembakaran lahan.
Kabut muncul cukup tebal di area dataran rendah dan sekitar pesisir pantai. Warna putih pekatnya menyerupai asap, sehingga warga langsung mengaitkannya dengan kiriman asap dari kebakaran hutan dan lahan.
Aminudin memastikan asap karhutla tidak sampai ke Bali. Citra satelit menunjukkan sebaran asap dari Kalimantan bergerak ke arah barat, barat laut, dan utara.
"Dari analisis berdasarkan video yang beredar di Tabanan tersebut, fenomena seperti asap atau kabut putih tebal yang menyelimuti area dataran rendah atau daerah yang berada di sekitar pesisir pantai tersebut dikenal dengan istilah kabut adveksi," ujarnya.
Kabut adveksi terjadi ketika angin membawa massa udara hangat dan lembap dari laut atau wilayah lebih dingin menuju daerah dengan suhu berbeda. Perbedaan suhu membuat uap air mengembun di dekat permukaan, lalu membentuk lapisan kabut tebal.
Fenomena ini umumnya muncul saat musim kemarau ketika suhu udara daratan tinggi. Kemunculannya tetap bergantung pada kondisi atmosfer, sehingga tidak semua dataran rendah atau pesisir mengalaminya.
"Kabut adveksi ini umumnya tidak berbau, membuat cuaca di sekitar menjadi agak lembap, tetapi juga tidak begitu segar," terang Aminudin.
Kabut adveksi berbeda dari asap karhutla yang biasanya disertai bau terbakar dan partikel pekat. Warga di sekitar Bypass Kediri, Gubug, dan Yeh Gangga tidak perlu panik menyikapi kondisi ini.
BMKG menyarankan warga tetap memantau informasi cuaca resmi, terutama saat berkendara di jalur yang tertutup kabut. Jarak pandang yang menurun menjadi risiko utama di jalan.