Disbudpar Buleleng Gelar Lomba Wayang dan Prasi, 9 Kecamatan Kirim Wakil Usia 15-25 Tahun

Penulis: Darmawan Putra  •  Kamis, 17 September 2026 | 11:57:31 WIB

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng menggelar lomba pembuatan wayang dan prasi, seni lukis cerita di atas daun lontar, untuk mendorong regenerasi seniman di kalangan generasi muda. Ajang tahunan itu diikuti pemuda-pemudi perwakilan sembilan kecamatan dengan rentang usia 15 hingga 25 tahun, berlangsung di Wantilan Sasana Budaya dan lingkungan Museum Gedong Kirtya, Singaraja. Tahun ini Disbudpar memangkas cabang lomba dari empat-lima menjadi dua kategori saja.

SINGARAJA — Kepala Disbudpar Kabupaten Buleleng I Nyoman Wisandika menyebut pengurangan cabang lomba dilakukan dengan pertimbangan efisiensi pelaksanaan. "Kegiatan tahun ini dilaksanakan lebih sederhana. Tahun lalu terdapat empat hingga lima cabang lomba, sedangkan sekarang kami fokus pada dua lomba, yaitu membuat wayang dan prasi," kata Wisandika saat ditemui di Singaraja, Rabu.

Peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk pelajar tingkat sekolah menengah. Kedua kategori memberi waktu lima jam bagi setiap peserta untuk merampungkan karya. Penilaian dan pengumuman pemenang dijadwalkan pada sore hari.

Wayang Sahadewa Menutup Rangkaian Tokoh Pandawa

Kategori pembuatan wayang tahun ini mengangkat tokoh Sahadewa. Pemilihan itu menutup rangkaian tokoh Pandawa yang dijadikan tema perlombaan secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir.

"Wayang ini merupakan episode terakhir. Sebelumnya sudah ada Yudhistira, Bima, Arjuna, dan Nakula. Sekarang Sahadewa menjadi bagian terakhir dari rangkaian lomba membuat wayang," ujar Wisandika.

Sementara kategori perasi mengangkat tema Sutasoma. Perasi sendiri merupakan seni menulis sekaligus menggambar rangkaian cerita pada media daun lontar.

Regenerasi Perasi Dianggap Paling Sulit

Wisandika mengakui regenerasi seniman pembuat wayang dan perasi masih menghadapi tantangan karena jumlah generasi muda yang menekuni kedua bidang itu relatif terbatas. Kesulitan lebih terasa pada seni perasi.

"Salah satu persoalan yang dihadapi memang regenerasi. Perasi merupakan cerita bergambar di atas lontar dan regenerasinya cukup sulit. Demikian pula dengan pembuatan wayang," ungkapnya.

Proses pembuatan perasi menuntut keterampilan ganda: menulis dan menggambar cerita pada satu media daun lontar. Kombinasi itu membuat peminat dari kalangan muda lebih sedikit dibanding seni rupa umum.

Lomba Jadi Pintu Awal, Pembinaan Kecamatan Diharapkan Menyusul

Disbudpar Buleleng menjadikan kompetisi tersebut sebagai salah satu langkah memperkenalkan, melindungi, dan melestarikan kesenian tradisional kepada generasi muda. Wisandika berharap kegiatan itu tidak berhenti sebagai ajang perlombaan.

Menurutnya, perlu ada program pembinaan berkelanjutan di masing-masing kecamatan agar minat peserta tidak surut setelah lomba usai.

"Kita mengetahui peminat dari kalangan generasi muda untuk membuat wayang dan perasi masih sangat sedikit. Oleh karena itu, sebagai instansi yang membidangi kebudayaan, kami harus terus melakukan perlindungan dan pelestarian," pungkasnya.

Reporter: Darmawan Putra
Sumber: bali.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top