DENPASAR — Puncak Karya Atiwa-Tiwa atau ngaben massal di Desa Adat Kesiman, Denpasar Timur, berlangsung khidmat di Setra Desa Adat Kesiman, Kamis (3/9/2026). Prosesi yang digelar secara kolektif ini melibatkan 332 peserta untuk upacara metatah dan 297 sawa dalam prosesi Atma Wedana Maligia Punggel, menjadikannya salah satu ritual keagamaan terbesar di wilayah tersebut tahun ini.
Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara hadir sejak awal rangkaian, mengikuti prosesi bersama para penglingsir puri, anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, serta jajaran Majelis Desa Adat (MDA). Kehadirannya menunjukkan perhatian serius pemerintah kota terhadap keberlangsungan tradisi adat di tengah modernitas Bali.
Jro Bendesa Adat Kesiman I Ketut Wisna merinci, gelaran tahun ini terbagi dalam beberapa kategori utama. Untuk prosesi ngaben, tercatat 34 sawa, 127 ngelangkir, dan 22 ngelungah yang disucikan secara massal. Sementara itu, rangkaian Atma Wedana Maligia Punggel yang dijadwalkan mencapai puncaknya pada 1 Oktober 2026 akan melibatkan 297 sawa.
Ritual Metatah atau potong gigi juga menjadi bagian penting dengan 332 peserta. Puncak dari seluruh rangkaian karya adalah prosesi Mesasab di Segara Padang Galak yang berlangsung secara kolektif, melibatkan total 508 peserta dari berbagai kategori upacara.
Menurut Jaya Negara, inisiatif ngaben massal ini bukan sekadar pelestarian budaya, melainkan solusi konkret atas persoalan biaya upacara yang kerap memberatkan masyarakat. Dengan pelaksanaan kolektif, biaya dapat dipangkas signifikan dibandingkan upacara individu.
"Pelaksanaan Karya Atiwa-Tiwa ini merupakan bentuk tanggung jawab desa adat dalam membantu dan meringankan beban krama. Terlebih, upacara ini rutin dilaksanakan setiap lima tahun sekali, sehingga diharapkan dapat memberikan kemudahan dan kebermanfaatan bagi krama dalam melaksanakan upacara," ujarnya di sela kegiatan.
Desa Adat Kesiman sendiri konsisten menjalankan pola ngaben massal ini setiap setengah dekade. Model ini dinilai efektif menjaga standar upacara yang sakral sembari tetap realistis terhadap kemampuan ekonomi warga di tengah biaya hidup yang terus meningkat.
Rangkaian Karya Atiwa-Tiwa tidak berhenti pada prosesi ngaben 3 September lalu. Desa adat masih memiliki serangkaian agenda lanjutan yang berlangsung hampir sebulan penuh. Prosesi Atma Wedana secara resmi dimulai pada 6 September, kemudian dilanjutkan dengan Mesasab secara kolektif di Segara Padang Galak.
Puncak seluruh rangkaian akan terjadi pada Atma Wedana Maligia Punggel yang dijadwalkan 1 Oktober 2026. "Seluruh rangkaian Karya Atiwa-Tiwa ini diharapkan dapat berlangsung lancar dan khidmat, serta memberikan kerahayuan bagi seluruh krama dan umat yang terlibat," harap I Ketut Wisna. Selama periode ini, umat Hindu di Kesiman berkesempatan melaksanakan kewajiban spiritual dengan difasilitasi penuh oleh mekanisme gotong royong desa. (mil/hms)