DENPASAR — Ribuan warga dan jajaran pemerintah Kota Denpasar larut dalam suasana gotong royong di Lapangan Wantilan Desa Adat Panjer, Sabtu (29/8). Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara hadir bukan sekadar menyaksikan, tetapi ikut ngayah nyangging dalam prosesi Metatah Massal yang diikuti 266 peserta.
Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Karya Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya Atma Wedana (Nyekah Kurung Nyatur Muka) yang diselenggarakan Desa Adat Panjer. Pelaksanaan secara massal ini menjadi cara desa adat meringankan beban krama dalam menjalankan kewajiban keagamaan.
Pemkot Denpasar Gelontorkan Rp 1 Miliar untuk Karya
Jaya Negara mengapresiasi inisiatif Desa Adat Panjer yang menggelar upacara secara kolektif. Menurutnya, skema ini merupakan wujud kolaborasi nyata antara pemerintah dan desa adat dalam membantu masyarakat menjalankan swadharma keagamaan.
“Atas nama Pemerintah Kota Denpasar, kami mengucapkan terima kasih kepada Jero Bendesa Adat Panjer beserta seluruh jajaran yang telah melaksanakan karya ini. Ini merupakan wujud dharma, termasuk dharmaning negara, melalui kerja sama antara Pemerintah Kota Denpasar dengan Desa Adat Panjer,” ujar Jaya Negara.
Sebagai bentuk dukungan, Pemkot Denpasar mengalokasikan dana Rp 1 miliar untuk penyelenggaraan karya tersebut. Adapun kekurangan pembiayaan lainnya ditutup melalui semangat gotong royong dan kas desa adat.
“Walaupun bantuan ini tidak maksimal, kami memberikan dukungan sebesar Rp 1 miliar, sementara kekurangannya dilaksanakan secara gotong royong. Saya kira tidak ada masyarakat yang mengeluarkan biaya. Mudah-mudahan pola seperti ini bisa kita bangun, tidak hanya di bidang spiritual dan mental, tetapi juga dalam berbagai bidang lainnya,” jelasnya.
266 Peserta Ikut Metatah, Peserta Luar Desa Adat Panjer Dipersilakan
Bendesa Adat Panjer AA Ketut Oka Adnyana menjelaskan, rangkaian karya yang digelar setiap empat tahun sekali ini dimulai sejak Mei lalu. Diawali dengan Pitra Yadnya berupa upacara Warak Kururon, Ngelungah, dan Nglangkir pada 24 dan 25 Mei, kemudian dilanjutkan Metatah Massal sebelum puncak Atma Wedana atau Memukur.
“Upacara Atma Wedana ini bertujuan untuk meningkatkan penyucian roh pitara menuju Sunia Loka. Namun sebelum puncak Memukur dilaksanakan, kami menyelenggarakan upacara Metatah Massal,” ujar Oka Adnyana.
Jumlah peserta Metatah tahun ini menjadi salah satu yang terbesar selama penyelenggaraan karya. Menariknya, peserta tidak hanya berasal dari krama Desa Adat Panjer, tetapi juga masyarakat di luar wilayah tersebut.
Krama Tidak Dibebani Biaya, Dana dari LPD dan Unit Usaha Desa
Oka Adnyana menegaskan seluruh rangkaian upacara digelar tanpa memungut biaya dari krama. Pembiayaan ditanggung kas Desa Adat Panjer, LPD, serta sejumlah unit usaha di bawah pengelolaan desa adat, ditambah bantuan Rp 1 miliar dari Pemkot Denpasar.
“Krama tidak dibebani biaya alias gratis. Kami tidak menetapkan standar biaya sama sekali. Hanya memberikan punia, kami persilakan seikhlasnya sebagai wujud rasa syukur,” ungkapnya.
Puncak upacara Memukur dijadwalkan berlangsung pada 6 September 2026 dengan jumlah peserta mencapai 212 puspa. Oka Adnyana berharap seluruh peserta dapat menjalani rangkaian upacara dengan pikiran tenang dan berpegang pada nilai Tri Kaya Parisudha sebagai pedoman mengendalikan hawa nafsu.