SINGARAJA — Populasi Cemara Pandak (Casuarina sp.), tumbuhan endemik yang hanya tumbuh di Bali, kini berada dalam kondisi kritis. Data terbaru menyebutkan jumlah pohon dewasa yang tersisa di alam liar kurang dari lima batang, menjadikannya salah satu spesies pohon paling langka di Indonesia.
Kepunahan massal ini mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama pengelola Kebun Raya Kebal di Kabupaten Buleleng untuk mengambil langkah agresif. Mereka memulai program perbanyakan populasi massal melalui teknik pembibitan intensif di laboratorium dan rumah kaca.
Tak hanya di laboratorium, upaya konservasi juga menyasar langsung ke habitat asli. Sebuah gerakan penanaman pohon diluncurkan di sepanjang kawasan konservasi di sekitar Danau Tamblingan, kawasan hutan lindung di Kecamatan Banjar, Buleleng.
Lokasi ini dipilih karena merupakan salah satu ekosistem alami terakhir yang masih mendukung pertumbuhan Cemara Pandak. Namun, tekanan alih fungsi lahan dan perubahan iklim disebut sebagai faktor utama yang mempercepat laju kepunahan spesies ini dalam satu dekade terakhir.
Para peneliti di Kebun Raya Kebal kini fokus pada teknik kultur jaringan dan perbanyakan vegetatif untuk mempercepat produksi bibit. Jika metode ini berhasil, dalam dua hingga tiga tahun ke depan diharapkan ratusan bibit siap ditanam kembali ke alam.
Gerakan penanaman di Danau Tamblingan juga melibatkan komunitas pecinta lingkungan dan desa adat setempat. Keterlibatan masyarakat lokal dinilai krusial untuk memastikan kelangsungan hidup bibit yang ditanam di lapangan.
Tanpa intervensi cepat, Cemara Pandak akan menyusul sejumlah spesies flora Bali lain yang telah dinyatakan punah. BRIN menyebut program ini sebagai "perlombaan melawan waktu" yang hasilnya akan menentukan apakah generasi mendatang masih bisa melihat pohon langka ini tumbuh di tanah asalnya.