DENPASAR — MUI Bali memetakan sedikitnya 45 lokasi untuk penyelenggaraan salat Idul Adha di Kota Denpasar pada Rabu (27/5). Penyebaran titik ini mengakomodasi lonjakan jumlah jemaah yang diperkirakan meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Ketua MUI Bali, KH. Muhammad Taufik, menyatakan koordinasi dengan pemerintah kota dan kepolisian sudah rampung. “Setiap lokasi memiliki petugas kebersihan dan pengatur lalu lintas mandiri dari panitia,” ujarnya dalam rapat persiapan di Denpasar, Senin (25/5).
MUI Bali mengeluarkan imbauan tegas terkait distribusi daging kurban tahun ini. Organisasi itu mewajibkan panitia menyalurkan daging kepada tetangga non-Muslim di sekitar masjid atau lapangan tempat penyembelihan.
“Di Bali, kerukunan adalah harga mati. Daging kurban wajib dibagi ke tetangga yang berbeda agama. Ini bukan sekadar toleransi, tapi implementasi ajaran Islam yang rahmatan lil alamin,” tegas KH. Muhammad Taufik.
Kebijakan ini mendapat sambutan positif dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali. Mereka menilai langkah MUI memperkuat harmoni sosial yang sudah terjalin puluhan tahun di tengah masyarakat multikultural.
Penyebaran titik salat di Denpasar tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun lalu yang hanya 35 lokasi. Menurut MUI Bali, penambahan ini mengantisipasi lonjakan jemaah dari daerah sekitar yang memilih merayakan Idul Adha di ibu kota provinsi.
“Banyak perantau dari Jawa, Lombok, dan daerah lain yang bekerja di Denpasar. Mereka tidak mudik, jadi kami perlu perluasan titik agar tidak terjadi penumpukan,” jelas Sekretaris MUI Bali, Dr. H. Ahmad Zaini.
Lokasi-lokasi tersebut meliputi masjid besar, musala, hingga lapangan terbuka di enam kecamatan se-Denpasar. Panitia juga menyiapkan tenda tambahan untuk jemaah perempuan dan lansia.
MUI Bali mengingatkan jemaah untuk tetap menerapkan protokol kesehatan meski status pandemi telah dicabut. Penggunaan masker di area padat tetap dianjurkan, terutama bagi lansia dan mereka yang memiliki komorbid.
Panitia kurban di setiap titik diwajibkan mencatat jumlah hewan kurban dan penerima daging secara detail. Hal ini untuk memastikan distribusi tepat sasaran dan tidak ada daging yang terbuang.
“Kami juga minta agar daging kurban tidak dijual kembali. Ini amanah yang harus dijaga,” tambah Dr. H. Ahmad Zaini.
Sejumlah tokoh lintas agama di Denpasar menyambut baik kebijakan pembagian daging kurban. Mereka menilai tradisi ini sudah berlangsung lama dan menjadi simbol kebersamaan.
“Setiap Idul Adha, tetangga Muslim kami selalu memberikan daging kurban. Ini membuat kami merasa dihargai dan menjadi bagian dari keluarga besar,” ujar I Wayan Sudarma, tokoh Hindu di Denpasar Barat.
MUI Bali berharap momen Idul Adha tahun ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial antarumat beragama di Bali yang dikenal dengan filosofi Menyama Baya (persaudaraan tanpa perbedaan).