DENPASAR — Kebiasaan wisatawan domestik dan mancanegara untuk mengirimkan barang bawaan atau oleh-oleh langsung dari Pulau Dewata kini menjadi tren yang patut diperhitungkan. Data dari sejumlah perusahaan jasa pengiriman menunjukkan volume paket dari titik-titik wisata seperti Kuta, Ubud, dan Sanur meningkat signifikan sepanjang tahun ini.
Para pelaku bisnis melihat pola ini bukan lagi sekadar pengiriman barang sisa liburan. Banyak wisatawan yang sengaja membeli produk dalam jumlah banyak—mulai dari kerajinan perak, kain endek, hingga kopi kintamani—lalu mengirimkannya pulang agar tidak melebihi batas bagasi pesawat.
“Ini peluang. Mereka tidak hanya beli satu, tapi bisa sampai lima-enam item untuk dikirim ke alamat berbeda. Artinya, daya beli di titik penjualan naik,” ujar seorang pengelola jasa titip di kawasan Sukawati, pekan lalu.
Perusahaan ekspedisi skala kecil dan menengah di Bali melaporkan kenaikan permintaan pengiriman hingga puluhan persen dalam tiga bulan terakhir. Layanan yang ditawarkan pun bervariasi, dari pengemasan khusus barang pecah belah hingga asuransi pengiriman.
Para penyedia jasa logistik kini berlomba menawarkan paket kompetitif. Beberapa di antaranya bahkan menyediakan layanan jemput paket langsung ke hotel atau vila wisatawan, memangkas waktu antre di kantor pos atau agen ekspedisi.
Dampak paling terasa adalah bagi UMKM lokal. Produsen makanan ringan khas Bali, seperti pie susu dan dodol rumput laut, mengaku omzet mereka ikut terdongkrak karena wisatawan tidak ragu membeli dalam partai besar untuk dikirim ke kota asal.
Seorang perajin perak di Celuk, Gianyar, menyebutkan bahwa pesanan dari wisatawan yang langsung dikirim ke Jakarta atau Surabaya kini menyumbang hampir separuh pendapatannya. “Dulu mereka beli satu, sekarang langsung tiga, minta dikirim. Kami jadi tidak perlu stok banyak di toko,” katanya.
Para pengamat bisnis lokal menilai tren ini akan bertahan seiring dengan semakin mudahnya akses layanan logistik di daerah wisata. Pemerintah daerah pun didorong untuk memfasilitasi pelatihan pengemasan dan pengiriman bagi UMKM agar produk mereka tidak rusak selama perjalanan.
Jika dimanfaatkan dengan baik, kebiasaan wisatawan mengirim paket ini bisa menjadi jalur distribusi permanen yang menghubungkan produk Bali langsung ke konsumen di seluruh Indonesia, tanpa perlu perantara distributor besar.