Kenaikan Kurs Dolar Tak Selalu Untungkan Eksportir, Pengusaha Mebel dan Kerajinan Bali Keluhkan Biaya Produksi Membengkak

Penulis: Candra Setiabudi  •  Senin, 25 Mei 2026 | 15:05:05 WIB
Pengusaha mebel dan kerajinan Bali mengeluhkan biaya produksi membengkak akibat kenaikan kurs dolar.

DENPASAR — Anggapan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat selalu menguntungkan eksportir mulai terusik. Di Bali, para pengusaha mebel dan kerajinan justru merasakan dampak sebaliknya: biaya produksi membengkak dan margin keuntungan tergerus.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Bali, I Ketut Sudiana, secara tegas membantah narasi tersebut. Menurutnya, kenaikan kurs dolar tidak otomatis membuat kantong pengusaha penuh.

Biaya Bahan Baku Impor Justru Membengkak

Sudiana menjelaskan, meskipun pendapatan ekspor dalam dolar AS menjadi lebih besar saat dirupiahkan, beban di sisi produksi juga ikut meroket. Sebab, sebagian besar bahan baku dan komponen pendukung masih harus diimpor.

"Banyak bahan baku seperti finishing, lem, dan aksesori logam yang kami beli dengan dolar. Begitu rupiah melemah, harga bahan-bahan itu naik drastis," ujar Sudiana dalam keterangannya, Senin lalu.

Eksportir Kecil Paling Terpukul

Kondisi ini disebut paling berat dirasakan oleh pengusaha kecil dan menengah. Mereka tidak memiliki daya tawar yang kuat untuk menekan harga bahan baku atau menegosiasikan ulang kontrak dengan pembeli di luar negeri.

Akibatnya, keuntungan dari selisih kurs justru habis untuk menutup kenaikan biaya produksi. "Kami tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual ke buyer karena takut kehilangan pasar," tambah Sudiana.

Fakta Singkat: Dampak Kurs pada Pengusaha Bali

  • Bahan baku impor seperti lem, finishing, dan aksesori logam harganya naik seiring pelemahan rupiah.
  • Pengusaha kecil dan menengah paling rentan karena margin tipis dan daya tawar rendah.
  • Kenaikan harga jual produk ekspor sulit dilakukan karena persaingan ketat dengan negara produsen lain.

Pemerintah Diminta Intervensi Stabilkan Rupiah

HIMKI Bali berharap pemerintah dan Bank Indonesia dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan nilai tukar. Selain itu, mereka mendorong adanya insentif bagi pengusaha yang menggunakan komponen lokal agar ketergantungan pada bahan baku impor berkurang.

"Kami butuh kepastian, bukan sekadar klaim bahwa pengusaha ekspor diuntungkan. Realitanya di lapangan jauh berbeda," pungkas Sudiana.

Reporter: Candra Setiabudi
Sumber: radarbadung.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top