DENPASAR — Jumlah penutur asing di negara Tirai Bambu terbilang sedikit. Angkanya jauh lebih rendah dibandingkan dengan apa yang biasa kita temui di Indonesia. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelancong yang hanya mengandalkan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi.
Pengalaman Eka Prasetya selama di Tiongkok menunjukkan realitas pahit. Tidak semua tempat, terutama daerah jauh dari pusat kota atau destinasi wisata internasional, menggunakan bahasa Inggris. Banyak warga lokal hanya menguasai bahasa Mandarin.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan Indonesia, khususnya Bali. Di sana, bahasa Inggris cukup umum digunakan oleh pelaku pariwisata. Di Tiongkok, situasinya justru sebaliknya.
Bagi jurnalis atau wisatawan asal Indonesia yang berencana bepergian ke Tiongkok, pengalaman Eka Prasetya menjadi catatan penting. Mengandalkan aplikasi penerjemah atau mempelajari beberapa frasa dasar bahasa Mandarin bisa menjadi solusi praktis.
Meski demikian, pengalaman ini justru memperkaya perspektif tentang keragaman budaya dan bahasa. Tantangan komunikasi menjadi bagian dari petualangan yang tak terlupakan.