Bahasa Inggris Tak Cukup di Tiongkok: Pelajaran dari Perjalanan Jurnalis Bali

Penulis: Agus Hermawan  •  Rabu, 20 Mei 2026 | 11:45:12 WIB
Jurnalis Bali menghadapi tantangan komunikasi di Tiongkok akibat minimnya penutur bahasa Inggris.

DENPASAR — Jumlah penutur asing di negara Tirai Bambu terbilang sedikit. Angkanya jauh lebih rendah dibandingkan dengan apa yang biasa kita temui di Indonesia. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelancong yang hanya mengandalkan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi.

Fakta di Lapangan: Minimnya Penutur Inggris

Pengalaman Eka Prasetya selama di Tiongkok menunjukkan realitas pahit. Tidak semua tempat, terutama daerah jauh dari pusat kota atau destinasi wisata internasional, menggunakan bahasa Inggris. Banyak warga lokal hanya menguasai bahasa Mandarin.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan Indonesia, khususnya Bali. Di sana, bahasa Inggris cukup umum digunakan oleh pelaku pariwisata. Di Tiongkok, situasinya justru sebaliknya.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Pengalaman Ini?

Bagi jurnalis atau wisatawan asal Indonesia yang berencana bepergian ke Tiongkok, pengalaman Eka Prasetya menjadi catatan penting. Mengandalkan aplikasi penerjemah atau mempelajari beberapa frasa dasar bahasa Mandarin bisa menjadi solusi praktis.

Meski demikian, pengalaman ini justru memperkaya perspektif tentang keragaman budaya dan bahasa. Tantangan komunikasi menjadi bagian dari petualangan yang tak terlupakan.

Reporter: Agus Hermawan
Sumber: radarbadung.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top