TULAMBEN — Perairan Tulamben di Karangasem, Bali, bukan sekadar destinasi wisata selam kelas dunia. Di dasar lautnya, bangkai kapal USAT Liberty yang tenggelam pada masa Perang Dunia II menjadi saksi bisu sekaligus ruang kelas bagi para calon penyelam dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
UKM Selam UGM baru saja menuntaskan Latihan Perairan Terbuka (LPT) XXXVI di lokasi tersebut. Sebanyak 55 mahasiswa diterjunkan langsung ke laut lepas, didampingi tiga instruktur dan lima asisten instruktur.
Bangkai kapal sepanjang 120 meter itu kini berfungsi sebagai terumbu karang buatan yang dihuni ratusan spesies ikan dan biota laut. Bagi penyelam pemula, lokasi ini menawarkan tantangan teknis sekaligus visual yang kaya.
"Tidak hanya pesona alam, lokasi ini menawarkan pengalaman penyelaman yang sekaligus menantang secara teknis dan kaya secara visual terlebih bagi penyelam baru," kata Ardhya Nareswari Candrakirana, Ketua UKM Selam UGM, Rabu (13/5).
LPT XXXVI dirancang sebagai puncak dari seluruh rangkaian pendidikan dan pelatihan selam. Para peserta sebelumnya telah menjalani pelatihan di kelas dan kolam renang sebelum akhirnya diuji di kondisi laut sesungguhnya.
"Kita memberikan pengalaman penyelaman terbaik sekaligus memperluas wawasan peserta terhadap keajaiban ekosistem laut Indonesia," ungkap Ardhya.
Meskipun sempat dihadapkan pada kendala di lapangan, Ardhya menyebut keseluruhan kegiatan berlangsung lancar. Ia mengapresiasi antusiasme peserta, baik yang baru pertama kali menyelam di laut maupun yang sudah berpengalaman. "Secara keseluruhan kegiatan berlangsung dengan baik. Para peserta terlihat antusias dan hari pelaksanaan juga terasa sangat mengesankan," ujarnya.
Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan teknik menyelam. Menurut Ardhya, LPT menjadi proses penting dalam pembentukan karakter dan kesiapan mental. Para calon penyelam diasah kemampuannya dalam beradaptasi, bekerja sama, dan menunjukkan perkembangan nyata selama kegiatan.
Melalui penyelenggaraannya, Ardhya berharap para peserta tidak hanya keluar sebagai penyelam yang kompeten secara teknis, tetapi juga sebagai individu yang memiliki kesadaran mendalam akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem laut. "Pengalaman yang menantang sekaligus bermakna ini, menegaskan posisi UKM sebagai wadah pembinaan yang tidak hanya menghasilkan penyelam tangguh, tetapi juga individu yang peduli dan bertanggung jawab terhadap alam," harapnya.
Andari Pratista Widayani dari Diklat 35 mengaku momen menjadi senior diver untuk pertama kalinya memberikan pengalaman baru. Ia menyaksikan langsung perkembangan para peserta yang didampinginya.
"Kegiatan ini jadi pengalaman baru bagi semua peserta. Saya salut karena mereka mampu beradaptasi, peka terhadap lingkungan, serta bekerja sama dengan baik meskipun baru pertama kali menyelam di laut," tuturnya.
Aulia Zahra Pratiwi, salah satu peserta dari Diklat 36, mengaku terpesona sejak pertama kali menjejakkan diri ke perairan Tulamben. Menurutnya, pengalaman menyelam di laut terbuka jauh berbeda dari latihan di kolam renang. Keindahan bawah laut yang dijumpainya melampaui segala ekspektasi.
"Rasanya seperti memasuki dunia yang berbeda. Saya bisa menyaksikan langsung kekayaan biota bawah laut yang begitu memukau," sebutnya.