SINGARAJA — Puluhan bhikkhu yang berasal dari Laos, Thailand, Kamboja, Malaysia, dan Indonesia resmi memulai perjalanan spiritual lintas daerah dari titik awal di Brahma Vihara Arama, Banjar, Buleleng. Perjalanan yang direncanakan berlangsung hingga 28 Mei 2026 tersebut bertujuan untuk menyebarkan pesan toleransi sebelum puncak peringatan Hari Suci Waisak pada akhir Mei mendatang.
Gubernur Bali Wayan Koster melepas langsung rombongan tersebut bersama Wakil Menteri Agama Romo R. Muhammad Syafi’i. Koster menegaskan bahwa aksi jalan kaki ini bukan sekadar aktivitas fisik keagamaan, melainkan simbol kuat kedamaian yang terpancar dari Pulau Dewata untuk dunia.
Rombongan para bhikkhu ini dijadwalkan melintasi empat provinsi di Indonesia dengan berjalan kaki secara konsisten. Perjalanan yang memakan waktu hampir tiga pekan tersebut menempatkan ketahanan fisik dan ketenangan batin sebagai inti dari ritual spiritual yang dijalankan.
Koster mengajak seluruh masyarakat, terutama di wilayah yang akan dilewati rombongan, untuk memberikan dukungan dan penghormatan. "Kita semua respect dan hormat. Jadi tentu saja kegiatan ini tidak sebatas kegiatan fisik keagamaan yang sakral tapi juga ini membawa kesan kedamaian yang dipancarkan dari Bali dan akan melintasi 4 provinsi," ujar Koster di Buleleng, Sabtu (9/5/2026).
Menurut Koster, agenda ini selaras dengan visi pembangunan daerah Nangun Sat Kerti Loka Bali. Visi tersebut menekankan pada penjagaan kesucian serta keharmonisan alam beserta isinya demi mewujudkan kebahagiaan masyarakat secara sekala dan niskala.
Wakil Menteri Agama Romo Syafi’i memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif Indonesia Walk For Peace 2026. Ia menilai praktik moderasi beragama sebenarnya sudah tertanam kuat dalam sejarah bangsa Indonesia jauh sebelum istilah politik toleransi populer di era modern.
"Ternyata sejak bawa ajaran umat beragama di Indonesia, sebelum kita menerapkan politik toleransi dan moderasi sudah punya fondasi yang sama. Bagaimana mereka dengan upaya yang maksimal meninggalkan hawa nafsunya. Kemudian mereka menebar kedamaian dan sebenarnya itu sudah kita rasakan sejak ratusan tahun yang lalu di Bumi Nusantara," jelas Romo Syafi’i kepada awak media.
Ia menambahkan bahwa dukungan dari para kepala daerah yang memiliki latar belakang agama berbeda terhadap kegiatan umat Buddha ini menjadi bukti nyata persaudaraan di Indonesia. Hal ini memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang mampu mengelola keberagaman dengan baik melalui kasih sayang dan kerja sama antarumat.
Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi masyarakat dunia dalam melihat bagaimana keberagaman dikelola di Indonesia. Koster meyakini perjalanan suci ini akan mendapatkan atensi luas dari masyarakat internasional karena keunikan dan kedalaman makna yang dibawanya.
"Ini jadi inspirasi bangsa Indonesia untuk selalu hidup dengan penuh toleransi dan penuh kedamaian," kata Gubernur Bali dua periode tersebut. Ia berharap niat mulia para bhikkhu ini dapat menjadi sumber energi positif bagi masyarakat Bali dan provinsi lain yang disinggahi.
Acara pelepasan ini juga dihadiri oleh Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra, jajaran Forkopimda Bali dan Buleleng, serta tokoh-tokoh dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Kehadiran berbagai elemen lintas agama ini mempertegas pesan inklusivitas yang ingin disampaikan melalui kegiatan Indonesia Walk For Peace 2026.