BALI — Akumulasi penjualan sepeda motor listrik di Indonesia baru menembus sekitar 280 ribu unit, sementara motor berbahan bakar minyak (BBM) terjual 5-6 juta unit per tahun. Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) Budi Setiyadi menyebut pangsa pasar motor listrik masih sangat kecil. Penjualan tahun ini bahkan baru 18.900 unit hingga Agustus 2026, jauh di bawah capaian 2025 yang tembus 70 ribu unit meski tanpa subsidi.
Budi Setiyadi membeberkan data tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI, Senin (21/9/26). Ia menilai ketimpangan angka ini menunjukkan penetrasi motor listrik ke pasar nasional masih menghadapi banyak ganjalan.
"Jadi kalau secara market share kami masih kecil sekali dibandingkan dengan motor yang ICE," kata Budi dalam rapat tersebut.
Penjualan 2026 Baru 18.900 Unit hingga Agustus
Budi merinci perjalanan penjualan motor listrik dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, saat program baru dimulai, penjualan hanya sekitar 15 ribu unit. Angka itu melonjak menjadi 77 ribu unit pada 2024.
Setahun berselang, tepatnya 2025, penjualan tetap bertahan di angka 70 ribu unit meski subsidi sudah tidak berjalan. Namun pada 2026, capaiannya justru merosot tajam.
"Namun di tahun 2026 sampai dengan bulan Agustus kami sekarang ini baru sekitar 18.900 (unit)," ungkapnya.
Subsidi Rp 3 Juta yang Tak Kunjung Cair
Ketidakpastian subsidi menjadi salah satu penyebab utama lesunya pasar. Pemerintah sebenarnya sudah menyampaikan rencana pemberian subsidi sejak awal 2026. Menteri Keuangan Purbaya bahkan sempat menyebut angka bantuan sekitar Rp 3 juta per unit.
"Namun sampai dengan bulan September ini juga belum ada kehaparannya. Jadi sangat juga menghambat menyangkut masalah penjualan sepeda motor listrik yang ada," tambah Budi.
Kondisi ini membuat calon konsumen cenderung menahan pembelian. Mereka berharap bisa mendapatkan bantuan pembelian dari pemerintah sebelum memutuskan membeli.
Infrastruktur Charging dan Bengkel Jadi Kendala Lain
Selain subsidi, ketersediaan infrastruktur pengisian daya atau charging turut menjadi penghambat. Budi menyebut persoalan ini sebagai bottleneck kedua setelah subsidi.
Kekhawatiran soal layanan purna jual juga masih membayangi masyarakat. Banyak calon pengguna yang ragu karena minimnya bengkel resmi motor listrik.
"Banyak masyarakat yang masih menanyakan kalau kemudian menggunakan sepeda motor listrik, kalau rusak nanti akan perbaikan di mana," jelasnya.
Pembiayaan Bank Himbara Siap, Implementasi Seret
Dari sisi pendanaan, bank-bank Himbara disebut sudah menyatakan kesiapan mendukung pembiayaan motor listrik. Namun kesiapan itu belum berjalan mulus di lapangan.
"Kalau dirapatkan dengan pihak pemerintah, beberapa industri atau kemudian bank Himbara menyangkut masalah financing, kalau diajak untuk mendukung sepeda motor listrik dalam rangka pendanaan, siap. Namun dalam implementasi sampai dengan sekarang kita juga masih mengalami hambatan," kata Budi.
Sejumlah tantangan itu membuat penetrasi motor listrik ke pasar nasional berjalan lambat. Tanpa kepastian subsidi, kesiapan infrastruktur charging, dan layanan purna jual yang memadai, target penjualan motor listrik di Indonesia berpotensi tetap tertinggal jauh dari motor BBM.