DENPASAR — Harga emas batangan Antam kembali mencatatkan rekor tertinggi pada perdagangan Kamis (9/5) pagi. Berdasarkan pantauan dari laman Logam Mulia pada pukul 09.27 WIB, harga dasar emas Antam naik Rp20.000 dari posisi sebelumnya Rp2.680.000 menjadi Rp2.700.000 per gram.
Kenaikan ini terjadi di tengah fluktuasi pasar logam mulia global yang masih dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi dan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Bagi investor di Bali, pergerakan ini menjadi sinyal untuk terus memantau momentum sebelum memutuskan membeli atau menjual emas batangan.
Harga Buyback Ikut Terkerek Naik
Harga pembelian kembali (buyback) emas Antam juga mengalami kenaikan signifikan. Pada hari yang sama, buyback ditetapkan di level Rp2.546.000 per gram, naik dari harga sebelumnya yang tercatat di kisaran Rp2.526.000.
Selisih antara harga jual dan buyback yang mencapai Rp154.000 per gram merupakan margin standar yang ditetapkan Antam. Selisih ini mencakup biaya produksi, administrasi, dan keuntungan yang menjadi dasar bisnis penjualan emas batangan.
Potongan Pajak untuk Transaksi di Atas Rp10 Juta
Perlu dipahami bagi nasabah yang hendak menjual kembali emasnya, setiap transaksi buyback dengan nilai di atas Rp10.000.000 akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 1,5 persen. Potongan pajak ini langsung dipotong dari total nilai transaksi saat pelaksanaan buyback berlangsung.
Sementara itu, untuk pembelian emas batangan baru, nasabah dikenakan pajak PPh sebesar 0,25 persen dari harga dasar yang tertera di laman resmi Logam Mulia. Skema perpajakan ini berlaku seragam di seluruh Indonesia, termasuk untuk transaksi yang dilakukan di Bali.
Harga Sewaktu-waktu Bisa Berubah
Antam menegaskan bahwa harga emas batangan yang diumumkan setiap hari kerja bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga emas dunia. Masyarakat yang ingin bertransaksi disarankan untuk selalu memantau laman resmi Logam Mulia atau mengunjungi butik emas Antam terdekat.
Kenaikan harga emas dalam beberapa pekan terakhir menjadikan logam mulia sebagai instrumen investasi yang kembali diminati di tengah gejolak pasar keuangan. Para analis memperkirakan tren penguatan harga emas masih akan berlanjut selama ketidakpastian global belum mereda.