BADUNG — Destinasi gaya hidup terbuka di kawasan Nusa Dua, Bali Collection, bersiap menghadirkan blok baru yang mengusung konsep berbeda. Blok C seluas 4.600 meter persegi nantinya tidak hanya menjadi area komersial, tetapi juga ruang terbuka hijau yang mengedepankan unsur alam.
"Orang mau ke Bali, mau healing-healing pasti nyari bukan tempat yang kayak mau makan di mal, pasti dia nyari tempat yang banyak pohonnya, kayak ada suara-suara burungnya, natural," ujar GM Commercial Properties PT Jakarta Setiabudi International Tbk, Stella Kohdong, Rabu (15/7/2026).
Blok C Pernah Tutup Saat Pandemi, Kini Dibuka Kembali
Blok C sebenarnya sudah pernah beroperasi sebelum pandemi COVID-19 melanda. Saat itu, seluruh tenant terpaksa dipindahkan ke Blok A dan B untuk memusatkan aktivitas. Kini, dengan kondisi yang pulih dan permintaan penyewa yang terus meningkat, manajemen memutuskan membuka kembali blok tersebut.
"Bali Collection sejak awal tidak hanya menjadi tempat berbelanja, tetapi juga tempat bagi pengunjung untuk menikmati karakter dan esensi Bali dalam satu destinasi," jelas Stella.
Kuliner Nusantara Jadi Andalan, Blok A dan B Sudah Penuh 100 Persen
Perbedaan utama Blok C dengan dua blok lainnya terletak pada konsep kulinernya. Jika Blok A dan B didominasi tenant makanan internasional, Blok C akan lebih mengedepankan masakan khas Indonesia. Nilai investasi yang digelontorkan untuk pengembangan ini mencapai Rp 40 miliar hingga Rp 20 miliar.
"Blok A, B ini sudah full 100 persen okupansinya, sehingga karena kami tidak bisa memenuhi lagi, blok C yang tadinya kita tutup, terpaksa kita akan buka," kata Stella.
Pasar Domestik Mulai Dibidik, Target Tamu Hotel dan Warga Lokal
Selama ini Bali Collection dikenal sebagai destinasi yang dikelilingi hotel dan resor kelas dunia, sehingga target utamanya adalah wisatawan mancanegara. Namun, kehadiran Blok C disebut menjadi peluang untuk memaksimalkan pasar lokal dan turis domestik.
"Karena kita kan punya tamu-tamu yang daerah sini, hotel di sini kan memang marketnya sudah seperti itu. Tapi tidak menutup kemungkinan kita juga target yang lokal market dan domestik. Kalau domestik turis kan bagaimanapun juga makan makanan Indonesia," pungkasnya.