BALI — Aura, perusahaan yang sudah 10 tahun berkecimpung di dunia bingkai foto digital, akhirnya merilis produk yang cukup berbeda dari yang lain. Bernama Aura Ink, bingkai foto ini menggunakan layar e-ink berwarna, teknologi yang sama dengan yang dipakai di perangkat e-reader seperti Amazon Kindle. Bedanya, Aura Ink dirancang khusus untuk menampilkan foto, bukan buku.
Bagaimana E-Ink Bisa Menampilkan Foto Berwarna?
Teknologi e-ink umumnya hanya mampu menampilkan hitam dan putih. Namun, Aura bekerja sama dengan pemasok panel untuk menghasilkan enam warna dasar: merah, biru, hijau, kuning, putih, dan hitam. Untuk menyajikan foto yang lebih kompleks, Aura mengembangkan algoritma dithering yang mencampur warna-warna terbatas itu sehingga mata manusia melihatnya sebagai gradasi yang halus.
“Saya belajar teori warna dari kepala ilmuwan kami, dan sejauh yang saya pahami, tidak ada definisi yang baik untuk berapa banyak warna yang direpresentasikan dengan baik,” ujar Eric Jensen, Co-Founder dan CTO Aura, kepada TechCrunch. “Semua tergantung pada bagaimana orang mempersepsikannya. Butuh banyak pengujian dengan banyak orang di berbagai ruang dan kondisi pencahayaan untuk mencapai titik ini.”
Pengalaman Pakai: Setup Mudah, Tampilan Artistik
Semua bingkai Aura terhubung ke aplikasi Aura yang tersedia di ponsel. Pengguna bisa mengunggah foto dari galeri ponsel, web, email, iCloud, atau Google Photos. Prosesnya cukup ramah untuk pengguna yang tidak terlalu paham teknologi, sebuah faktor penting mengingat produk ini sering dihadiahkan kepada orang tua atau kerabat.
Aplikasi ini juga punya fitur sosial. Jika anggota keluarga lain memiliki bingkai Aura, mereka bisa berbagi album dan foto akan muncul secara otomatis di bingkai masing-masing. Fitur ini bisa digunakan untuk saling mengirim foto lucu, misalnya.
Perbandingan dengan Bingkai LED: Mana yang Lebih Baik?
Selain Aura Ink, Aura juga mengirimkan bingkai LED Aspen 12 inci sebagai pembanding. Hasilnya, bingkai LED Aura ternyata juga cukup impresif. Layarnya anti-silau dan dikelilingi bingkai yang menyerupai kertas, sehingga tampak seperti foto cetak premium. Aura menyebutnya sebagai “Prada-nya bingkai foto digital.”
Saat membandingkan foto yang sama di Aura Ink dan Aspen, perbedaan warna memang terlihat jelas. Namun, bagi fotografer digital yang tidak terlalu rewel, distorsi warna pada Aura Ink justru terlihat seperti pilihan artistik. Sebaliknya, seorang fotografer film analog yang teliti terhadap aberasi warna menilai Aura Ink masih perlu penyempurnaan.
Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Membeli
Secara default, Aura Ink mengganti foto satu kali sehari, biasanya dilakukan pada tengah malam saat pengguna tidak memperhatikan. Jika ingin mengganti foto secara manual melalui aplikasi, perlu bersabar karena bingkai butuh waktu sekitar satu menit untuk memproses ulang gambar dengan algoritma dithering. Selama proses itu, layar akan terlihat seperti sedang error—itu wajar dan bukan kerusakan.
Pemasangan bingkai ke dinding juga mudah. Perangkat keras pemasangan yang disertakan terasa kokoh, dan Aura Ink bisa dipasang tanpa perlu paku atau bor—cukup gunakan perekat Command strips seperti yang biasa digunakan pengguna apartemen.
Kesimpulan: Untuk Siapa Aura Ink?
Aura Ink bukan untuk semua orang. Jika Anda adalah fotografer yang sangat peduli dengan akurasi warna dan white balance, bingkai LED Aura Aspen mungkin lebih cocok. Namun, jika Anda menginginkan bingkai foto yang tidak terlihat seperti perangkat digital, nyaman dipandang, dan bisa menjadi percakapan menarik saat tamu datang, Aura Ink adalah pilihan yang layak dipertimbangkan. Produk ini membuktikan bahwa bingkai foto digital tidak harus selalu terlihat seperti layar tablet yang mencolok.