Keputusan Google merilis simulator ke publik lewat browser bukan tanpa alasan. Pertama, WebGPU — teknologi grafis terbaru untuk browser — kini didukung mayoritas peramban modern. Ini memungkinkan rendering 3D mulus tanpa plugin. Kedua, Google mendorong adopsi Google Earth sebagai platform edukasi. Dengan simulator ini, guru geografi bisa mengajarkan konsep navigasi dan topografi secara interaktif tanpa perangkat mahal.
Bagi pengguna Indonesia yang terkendala spesifikasi komputer, kabar baiknya: simulator ini berjalan cukup ringan. Selama koneksi internet stabil dan browser mendukung WebGPU, pengalaman terbang di atas Gunung Bromo atau Candi Borobudur bisa dinikmati tanpa lag berarti.
Bukan Pilot License, Tapi Tetap Seru
Google menegaskan bahwa alat ini bukan untuk sertifikasi pilot. Tapi bagi penggemar penerbangan yang penasaran bagaimana rasanya mendaratkan pesawat di bandara dengan landasan pendek, atau sekadar ingin menjelajahi landmark dunia dari ketinggian 30.000 kaki, simulator ini layak dicoba. “Saya terbang 747 di usia delapan tahun — bukan sungguhan, tapi cukup nyata,” tulis seorang mantan pilot dalam memoar yang dikutip Google dalam pengumumannya. “Sekarang, siapa pun bisa merasakan hal yang sama tanpa harus punya kakek pilot.”
Untuk memulai, kunjungi g.co/flightSim di browser Anda. Pilih pesawat, pilih bandara, dan tekan tombol “Fly”. Selamat terbang — dari kursi ruang tamu Anda.