BALI — Anak tengah sering dianggap paling jago menengahi pertengkaran kakak dan adiknya. Sebuah studi terhadap lebih dari 770.000 orang dewasa menemukan mereka unggul dalam kejujuran dan keramahan. Simak lima ciri khas anak tengah dan cara mendampinginya di rumah.
Urutan kelahiran memang bukan penentu tunggal kepribadian anak. Namun pola pengasuhan yang berbeda di tiap posisi anak membuat anak tengah tumbuh dengan keterampilan sosial yang khas, terutama soal bernegosiasi.
Psikolog Michael Ashton dari Universitas Brock dan Kibeom Lee dari Universitas Calgary menganalisis data kepribadian lebih dari 770.000 orang dewasa di berbagai negara. Hasilnya, mereka yang lahir sebagai anak tengah mendapat skor tertinggi pada dua sifat: kejujuran atau kerendahan hati dan keramahan.
Kedua sifat itu mencakup kemampuan bekerja sama, fleksibilitas, keadilan, kesabaran, dan kemauan berbagi dengan orang lain. Temuan ini memperkuat anggapan lama bahwa anak tengah tumbuh sebagai penengah di rumah.
Peneliti juga menemukan hal menarik saat melihat ukuran keluarga. Orang dari keluarga besar cenderung mendapat skor lebih tinggi pada sifat yang sama, terlepas dari urutan kelahiran mereka.
Penjelasan Lee sederhana. Semakin banyak saudara di rumah, semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk bekerja sama dan berbagi. Kebiasaan itulah yang membentuk kepribadian. Jadi bisa jadi bukan soal posisi tengahnya, melainkan soal tumbuh di rumah yang ramai.
Anak tengah kebetulan duduk di kursi tengah saat negosiasi harian terjadi, misalnya saat tiga orang menginginkan menu makan malam berbeda. Mereka punya jalan pintas paling sedikit dan tidak punya rencana cadangan ketika kesepakatan gagal.
Anak tengah terbiasa meyakinkan kakaknya untuk berbagi mainan, ikut bermain, atau mengikuti idenya. Dari situ mereka belajar persis apa yang harus dikatakan untuk mendapatkan keinginan dari sosok yang lebih besar dan lebih berkuasa.
Keterampilan ini terbawa sampai dewasa. Banyak anak tengah tumbuh jadi pembujuk ulung yang mampu mencari jalan keluar dari situasi sulit.
Ada dua versi anak tengah yang sering tertukar. Versi pertama benar-benar pandai menengahi kesepakatan. Versi kedua melakukannya semata untuk menjaga perdamaian, yaitu mengelola suasana hati semua orang agar rumah tetap tenang.
Dua hal ini berasal dari tempat yang berbeda. Bernegosiasi berarti berupaya mencapai hasil, sedangkan menjaga perdamaian adalah pekerjaan yang melelahkan dan sering enggan dilakukan anak. Orang dewasa kerap menyebut versi kedua sebagai anak yang santai, padahal bisa jadi ia hanya tidak pernah mengalami hari sulit karena suasana hati orang lain selalu diutamakan.
Melansir Life Hack, ada beberapa ciri kepribadian anak tengah yang umum muncul di keluarga.
Anak tengah terbukti lebih ramah dan mudah memulai percakapan dengan siapa saja. Sepanjang masa kanak-kanak, mereka sudah terbiasa berkomunikasi efektif dengan kakak dan adiknya.
Psikolog Catherine Salmon menyebut anak tengah lebih cenderung menjadi agen perubahan di bisnis, politik, dan sains. Mereka punya banyak ide untuk mendorong perubahan. Bill Gates, Julia Roberts, dan John F. Kennedy adalah beberapa anak tengah yang dikenal sukses.
Anak tengah jarang mendapat barang baru seperti kakaknya. Sejak kecil mereka belajar bahwa segalanya harus diperjuangkan, sehingga etos kerjanya terbentuk secara alami.
Studi tentang karakteristik urutan kelahiran menunjukkan anak tengah lebih setia dalam hubungan. Mereka bisa dipegang untuk menjaga rahasia besar dan sensitif.
Karena tidak selalu jadi prioritas di rumah, anak tengah terbiasa mengurus kebutuhannya sendiri. Kemandirian ini jadi bekal berharga saat ia dewasa.
Kepribadian tidak bisa dinilai hanya dari urutan kelahiran. Anak juga belajar berkompromi lewat sepupu, teman satu tim, teman sekelas, dan lingkungan sekitar.
Jika ibu melihat anak tengah selalu mengalah demi menjaga suasana hati orang lain, ajak ia bicara. Pastikan ia tahu bahwa keinginannya juga penting dan berhak diperjuangkan, bukan sekadar dikorbankan demi ketenangan rumah.
Anak tengah punya bekal alami untuk jadi negosiator dan penengah yang baik. Tugas ibu adalah memastikan keterampilan itu tumbuh dari keinginan mencapai kesepakatan, bukan dari kebiasaan mengalah demi orang lain.