BADUNG — Dalam pemaparan materinya berjudul "Perempuan sebagai Jembatan di Tengah Keberagaman", Yunita menegaskan perbedaan latar belakang merupakan kekayaan yang harus disikapi bijak mulai dari lingkungan terkecil. Ia menyebut toleransi bukan sekadar wacana, melainkan modal utama menjaga keamanan dan kenyamanan warga serta wisatawan di Badung.
"Perbedaan bukanlah untuk dipisahkan, melainkan untuk saling melengkapi. Berbeda untuk saling mengenal, bersama untuk saling menguatkan. Nilai-nilai toleransi ini harus tetap kita junjung tinggi karena keamanan dan kenyamanan warga serta wisatawan adalah modal utama pariwisata yang menjadi sumber PAD Badung," tegasnya.
Peran Ganda Perempuan Badung di Sektor Pariwisata
Yunita yang juga menjabat Agen Kerukunan FKUB Badung menyoroti posisi perempuan yang berperan ganda: sebagai ibu rumah tangga sekaligus pelaku usaha kecil di kawasan wisata. Menurutnya, peran itu membuat perempuan punya ruang strategis untuk menularkan nilai toleransi ke lingkungan sekitar, mulai dari keluarga hingga tetangga.
Badung sendiri dikenal sebagai salah satu kabupaten dengan kontribusi pariwisata terbesar di Bali, dengan kawasan Kuta, Seminyak, dan Canggu sebagai tulang punggung perekonomian daerah. Kondisi itu membuat isu kerukunan bukan semata persoalan sosial, tapi juga menyangkut keberlanjutan sumber pendapatan asli daerah.
Pendeta Jonathan Soeharto: Perempuan Kristen Jadi Garda Terdepan
Seminar diinisiasi Bidang Wanita MPUK Badung, PGPI Provinsi Bali, dan PWKI Kabupaten Badung. Acara dibuka Ketua MPUK Badung sekaligus Ketua PGPI Bali, Pendeta Jonathan Soeharto.
Dalam sambutannya, Jonathan berpesan agar perempuan Kristen dapat menjadi garda terdepan dalam merawat persaudaraan dan kedamaian umat beragama di Badung. Pesan itu sejalan dengan tema seminar yang menekankan tiga hal: cerdas, kudus, dan berdampak.
Pembicara Lain dan Kehadiran Lintas Organisasi
Selain Yunita, seminar menghadirkan Ketua PUSPA Badung Nyonya Ayu Parwata serta Kabid Ketahanan Ekonomi dan Keagamaan Kesbangpol Badung Ni Putu Eka Rastuti sebagai pembicara. Kehadiran sejumlah organisasi perempuan lintas lembaga menunjukkan isu kerukunan tidak diklaim satu kelompok saja.
Bagi warga Badung, kegiatan semacam ini menjadi penanda bahwa kerja menjaga kerukunan tidak berhenti di forum formal. Nilai-nilai yang disampaikan di seminar diharapkan menetes ke lingkungan RT/RW, pasar, hingga kawasan wisata tempat perempuan beraktivitas sehari-hari.