BALI — Muhammad Shaqil, pemilik kafe berusia 31 tahun di Singapura, kehilangan hampir SGD 2.000 atau sekitar Rp 25 juta dalam waktu 30 menit setelah mengklik tautan verifikasi palsu yang dikirim melalui WhatsApp. Pelaku mengaku sebagai pihak hotel dan menyertakan nama hotel serta tanggal menginap yang akurat, membuat pesan tersebut tampak seperti komunikasi resmi. Kasus ini menjadi peringatan bagi wisatawan yang memesan akomodasi secara online menjelang musim liburan akhir tahun.
Shaqil sebelumnya memesan hotel melalui Booking.com untuk perjalanan kerja ke Frankfurt, Jerman. Ia mendapat pekerjaan menyajikan kopi dalam sebuah acara di kota tersebut. Pada Kamis, 10 September 2026, ia menerima pesan WhatsApp yang mengaku dari pihak hotel dan meminta verifikasi kartu agar reservasi tetap aktif.
Pengirim menggunakan nama "Assine SKY" dan menyertakan tautan verifikasi dengan batas waktu 12 jam. Nama hotel dan tanggal menginap yang tercantum dalam pesan sesuai dengan reservasi aslinya. Detail yang akurat inilah yang membuat Shaqil tidak langsung curiga.
Setelah membuka tautan dan memasukkan data kartu, notifikasi dari bank mulai bermunculan di ponsel Shaqil. Dua transaksi pertama masing-masing bernilai USD 162 atau sekitar Rp 2,9 juta, nominal yang sama persis dengan biaya pemesanan hotelnya. Shaqil mengira itu bagian dari proses pemeriksaan kartu.
Transaksi berikutnya melonjak lebih besar. Pelaku berhasil memproses sejumlah tagihan sebelum Shaqil menyadari kejanggalan. Ia sempat menolak satu permintaan transaksi tambahan, tetapi hampir SGD 2.000 sudah berpindah dari rekeningnya dalam waktu sekitar 30 menit.
"Semuanya terjadi begitu cepat sampai saya tidak menyadari apa yang sedang terjadi hingga semuanya sudah terlambat," kata Shaqil kepada Mothership, seperti dilansir Rabu (16/9/2026).
"Notifikasi transaksi pertama dan kedua yang saya terima sama-sama menunjukkan nominal USD 162 atau sekitar Rp 2,85 juta. Jumlah tersebut sesuai dengan biaya pemesanan hotel, sehingga saya tidak menyangka ada yang salah," ujarnya menambahkan.
Shaqil segera menghubungi bank dan membuat laporan polisi. Bank masih menyelidiki transaksi tersebut, dan ia belum mengetahui apakah seluruh uangnya bisa dikembalikan. Pada malam yang sama, ia menerima pesan WhatsApp lain dari pengguna bernama "Yas Tanzania" dengan isi identik seperti pesan pertama. Shaqil langsung memblokir nomor tersebut.
Ia juga menghubungi hotel melalui Booking.com untuk menanyakan bagaimana pelaku bisa mengetahui detail reservasinya. Hingga kini, pihak hotel belum memberikan tanggapan.
Kerugian ini berdampak besar bagi Shaqil karena uang tersebut berasal dari hasil usahanya. Pemilik Qyl's Coffee di Everton Park itu sebelumnya berencana memindahkan kafenya ke lokasi baru.
"Sejujurnya, saya cukup stres sejak kejadian itu. Jumlah tersebut sangat berarti bagi saya, terutama dengan berbagai persoalan yang sedang saya hadapi dalam menjalankan bisnis," kata Shaqil.
Booking.com mengingatkan pengguna mengenai risiko phishing melalui laman keamanan dan keselamatan wisatawan. Platform tersebut menegaskan pengguna tidak akan pernah diminta memberikan detail kartu kredit melalui email, telepon, pesan teks, atau WhatsApp.
Wisatawan juga diimbau tidak melakukan transfer bank yang berbeda dari ketentuan pembayaran dalam konfirmasi reservasi. Jika sudah mengeklik tautan mencurigakan atau membagikan informasi kepada pelaku, pengguna diminta segera menghubungi layanan pelanggan platform tersebut.
Kasus Shaqil menunjukkan bahwa penipuan booking hotel kini semakin rapi. Pelaku tidak lagi mengandalkan pesan massal, tetapi menyasar wisatawan dengan data reservasi yang akurat. Sebelum berangkat liburan, luangkan waktu memeriksa setiap komunikasi yang mengatasnamakan hotel atau platform pemesanan.