DENPASAR — Kategori Nyanyian Keagamaan Utsawa Dharmagita (UDG) XXXIII hanya diikuti tiga peserta. Badung tampil terbaik, disusul Gianyar dan Tabanan di urutan kedua dan ketiga.
Setiap peserta menyuguhkan karakter penyajian yang berbeda, mulai dari vokal, aransemen, kreativitas, hingga koreografi. Perbedaan itu menjadi bahan penilaian dewan juri.
Prof. Dr. Desak Made Suarti Laksmi, salah satu dewan juri, menilai keterbatasan peserta tidak otomatis menandakan rendahnya mutu lomba. Menurutnya, setiap daerah punya alasan masing-masing untuk tidak tampil.
"Semua mempunyai penyajian, semua mempunyai kelebihan dan semua mempunyai kekurangan," ujar Prof. Suarti Laksmi usai penilaian.
Ia menyebut minimnya peserta bisa dipengaruhi kesiapan daerah, keterbatasan penyanyi, hingga kendala teknis dan pengelolaan dana. Karena itu, absennya suatu kabupaten/kota pada kategori tertentu dinilai punya latar belakang berbeda-beda.
Ke depan, partisipasi seluruh kabupaten/kota di setiap kategori diharapkan meningkat. Semakin banyak peserta, semakin besar peluang menemukan talenta terbaik yang bisa mewakili Bali di tingkat nasional.
"Kalau hanya tiga, ya hanya tiga peluang. Kalau delapan atau sembilan ikut, kita lebih banyak peluang untuk mencari yang terbaik," tegasnya.
Penilaian Nyanyian Keagamaan tidak hanya melihat kemampuan bernyanyi. Aransemen, kreativitas musikal, dan koreografi turut diperhitungkan.
Aspek religiusitas tetap menjadi roh utama. Nyanyian keagamaan tidak cukup terdengar indah secara musikal, tetapi harus merefleksikan nilai-nilai Dharma dan ajaran agama Hindu.
Tantangan itu juga berlaku bagi pencipta lagu. Mereka dituntut memahami ajaran Dharma secara mendalam agar pesan keagamaan tidak kehilangan substansi.
"Karena ini nyanyian keagamaan, penciptanya harus menguasai benar ajaran-ajaran Dharma dan memahami tema yang diusung," jelas Prof. Suarti Laksmi.
Kreativitas bermusik tetap terbuka, termasuk mengadopsi nuansa pop maupun jazz. Namun sentuhan itu tidak boleh menghilangkan identitas dan nilai religius dalam karya.
"Apapun namanya, religiusitas tidak bisa ditinggalkan. Keagamaan itu harus muncul," katanya.
Lomba juga memberi ruang terhadap keberagaman bahasa Nusantara. Lagu wajib menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan lagu pilihan memakai bahasa daerah sesuai ketentuan panitia pusat.
Ketentuan itu menuntut peserta tidak hanya cakap secara musikal, tetapi juga mampu menerjemahkan tema keagamaan ke dalam karya yang kuat, kreatif, dan tetap berakar pada nilai Dharma.
UDG XXXIII diharapkan tidak berhenti sebagai ajang kompetisi. Kegiatan ini menjadi ruang menggali, menyeleksi, dan mempersiapkan talenta terbaik untuk membawa nama daerah ke tingkat nasional pada tahun berikutnya.