BALI — Profesi clipper kini jadi pilihan anak muda yang ingin menghasilkan uang dari video pendek tanpa harus punya banyak pengikut. Konten.com hadir sebagai marketplace yang mempertemukan brand dengan kreator konten, termasuk para clipper, untuk menggarap potongan video dari materi berdurasi panjang.
Konten.com didirikan oleh Sulianto Indria Putra bersama Andrew Jonathan pada 20 Mei 2026. Sulianto lahir di Jakarta, 5 Juli 2006, dan mulai berbisnis sejak usia 11 tahun dengan berjualan stik es krim ke teman sekolah.
Saat pandemi, ia bekerja sebagai freelance designer di usia 14 tahun, lalu mulai berinvestasi saham setahun kemudian. Ia mendalami trading dan aset kripto, dan disebut mengumpulkan Rp1 miliar pertamanya pada usia 18 tahun.
Clipper mengolah materi seperti podcast, livestream, wawancara, atau video panjang menjadi konten pendek untuk TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Pekerjaannya tidak sekadar memotong video.
Clipper harus memilih momen menarik, menentukan hook, memahami konteks, mengatur pacing, menambah elemen visual, hingga menyesuaikan konten dengan karakter tiap platform. Satu podcast berdurasi satu hingga dua jam, misalnya, bisa menghasilkan sejumlah klip dengan angle berbeda.
Berbeda dengan editor yang dibayar per pekerjaan, penghasilan clipper bergantung pada performa konten. Sejumlah marketplace clipping menawarkan tarif Rp2.000 hingga Rp7.000 per 1.000 views, tergantung campaign dan ketentuan platform.
Dengan skema itu, konten yang menembus 1 juta views berpotensi menghasilkan Rp2 juta hingga Rp7 juta. Konten.com mencatat seorang clipper berinisial A memperoleh sekitar Rp24 juta dalam sepekan pada periode 13-20 Agustus 2026.
Angka tersebut bukan gambaran pendapatan seluruh clipper. Penghasilan tetap bergantung pada jumlah views dan konsistensi produksi konten.
Pekerjaan ini bisa dimulai sebagai sampingan. Mahasiswa, editor pemula, maupun pengguna media sosial dapat mengerjakannya dengan perangkat dan kemampuan editing dasar.
Tren ini tumbuh seiring tingginya konsumsi internet. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026 mencatat 81,72% orang Indonesia telah menjadi pengguna internet.
Dhimas Izzul awalnya membuat klip video karena hobi dan mengunggahnya ke TikTok. Setelah salah satu videonya masuk FYP, sejumlah brand menghubunginya untuk kerja sama. Dari 12 video, ia mengaku memperoleh sekitar Rp4 juta.
Bagi brand, clipper memberi pilihan memperluas distribusi materi kampanye. Satu materi dapat diolah menjadi sejumlah potongan video dengan angle berbeda, sehingga jangkauan kampanye lebih luas tanpa produksi ulang dari nol.
Konten.com menyebut telah melibatkan ribuan creator dan clipper di Indonesia. Model marketplace memungkinkan clipper memperoleh peluang dari performa konten, sementara brand mendapat saluran distribusi tambahan.