BALI — Chevrolet menyebut lini Grand Sport selama ini sebagai titik manis lini Corvette. Konsumen mendapat bodi lebar dan sasis ala varian top-end tanpa harus membayar mahal untuk mesin supercar. Namun untuk generasi terbaru ini, pabrikan Amerika itu memecah Grand Sport menjadi dua karakter berbeda.
Grand Sport reguler tetap setia pada formula awalnya: mesin V-8 LS6 6.2-liter dari Stingray yang baru saja menerima suntikan tenaga 40 hp dan torsi 50 lb-ft. Outputnya kini menjadi 535 hp dan torsi 520 lb-ft. Lalu ada Grand Sport X yang namanya diambil dari posisinya di antara Grand Sport dan ZR1X, lengkap dengan julukan singkat GSX di kalangan internal pabrikan.
Daya tarik utama ada di varian X. Mesin LS6 yang sama dipadukan dengan motor listrik depan hasil adopsi dari ZR1X yang menghasilkan 186 hp dan torsi instan 145 lb-ft. Total gabungan tenaganya mencapai 721 hp. Paket baterai berukuran kecil diletakkan di terowongan tengah antara kursi pengemudi dan penumpang.
Sistem eAWD ini tidak hanya membantu akselerasi dari posisi diam, tetapi juga berperan besar saat keluar tikungan berkat torque vectoring. Ada konsekuensi bobot yang harus dibayar: GSX bertambah sekitar 300 pon atau 136 kg—mayoritas berada di poros depan. Namun konsumsi bahan bakarnya justru lebih baik ketimbang Grand Sport biasa, dengan catatan 18 mpg gabungan berbanding 17 mpg.
Grand Sport X sudah menyandang berbagai perlengkapan yang menjadi opsi di Grand Sport reguler. Rem karbon-keramik, Magnetic Ride Control, pendinginan powertrain yang ditingkatkan, dan Performance Traction Management menjadi standar. Ada dua konfigurasi penawaran:
Menariknya, Chevrolet tidak menyediakan opsi ban Michelin Pilot Sport Cup 2R untuk GSX—padahal ban semi-slick itu tersedia di Grand Sport reguler. Pihak GM mengaku tidak bisa menjelaskan alasan perbedaan ini karena tidak ada kendala fisik yang menghalangi. Dugaan sementara mereka: pemilik Grand Sport reguler lebih mungkin membawa mobilnya ke sirkuit.
Pengujian awal dilakukan di Atlanta Motorsports Park dengan dua mobil contoh: Grand Sport pakai Cup 2R dan Grand Sport X dengan Pilot Sport 4S. Di tikungan, Grand Sport dengan Cup 2R memberikan rasa percaya diri lebih berkat grip lateral yang tinggi. GSX dengan Pilot Sport 4S cenderung sedikit bergeser saat dihajar beban.
Namun begitu trek lurus terbuka, ceritanya berubah. Tarikan motor listrik di poros depan membuat GSX melesat dengan kecepatan akhir yang lebih tinggi. Sepanjang sesi, mode Charge+ diaktifkan untuk menjaga baterai tetap terisi sekitar 80 persen.
Sirkuit klub yang kecil memang tidak ideal untuk menunjukkan potensi lap time penuh. Chevrolet memperkirakan perbedaan performa bakal terlihat nyata di ajang Lightning Lap yang digelar di Virginia International Raceway, di mana trek lurusnya jauh lebih panjang. Proyeksi performa GSX versi pabrikan: akselerasi 0-60 mph dalam 2,5 detik, quarter mile di kisaran pertengahan 10 detik dengan kecepatan akhir mendekati 130 mph, dan jarak pengereman dari 70 mph sekitar 150 kaki.
Saat diajak meluncur di aspal biasa, GSX terasa seperti persilangan antara Grand Sport dan E-Ray—memang itulah hakikatnya. Temperamennya kalem dan tidak menunjukkan sedikit pun potensi tenaganya yang mengerikan. Redaman pengendaraannya setara Stingray berpaket Z51.
Rem karbon-keramik memberikan rasa pedal yang solid dan kuat, meski pengereman regeneratif bekerja di belakang layar. Ban all-season memang menghasilkan feel kemudi yang sedikit lebih tumpul dan menimbulkan resonansi suara samar di permukaan tertentu. Varian dengan ban musiman merespons lebih cepat dan memberi kepresisian kemudi yang sedikit lebih baik—konsistensi yang wajar dari perbedaan kompon ban.
Untuk pasar Indonesia, perlu dicatat bahwa Corvette dijual melalui jalur importir umum. Grand Sport X yang sarat teknologi hybrid ini menempati posisi di atas Grand Sport reguler baik dari sisi harga maupun kompleksitas teknis, tetapi menawarkan pengalaman berkendara yang paling serbaguna di lini Corvette—mampu menjadi GT harian yang nyaman sekaligus monster trek saat dibutuhkan.