MANGUPURA — Pameran tahunan industri makanan dan minuman (F&B) kembali siap digelar di Bali. Bali Interfood 2026 akan berlangsung selama tiga hari, 2-4 September 2026, di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Kuta Selatan, Badung, dan menargetkan 15.000 pengunjung.
Gelaran yang memasuki edisi ketujuh ini diikuti oleh 110 peserta, termasuk 35 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Delapan negara memastikan partisipasi mereka, yakni Indonesia, China, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Jepang, dan Prancis.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Bali tumbuh 6,91 persen pada triwulan II 2026 secara kuartalan dan 5,78 persen secara tahunan. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menyumbang 21,91 persen terhadap struktur ekonomi daerah, menjadikannya salah satu lokomotif utama.
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menilai pertumbuhan pariwisata berjalan beriringan dengan menjamurnya hotel, restoran, kafe, dan usaha kuliner. Kondisi ini membuka peluang tak hanya pada produk makanan dan minuman, tetapi juga bahan baku, peralatan pengolahan, kopi, hingga teknologi pengemasan.
Daud menegaskan bahwa Bali Interfood dirancang sebagai wadah untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan solusi yang ditawarkan para pemasok. Kehadiran peserta internasional menjadi kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk membandingkan perkembangan produk dan teknologi dari pasar global.
“Bali Interfood 2026 tidak hanya menghadirkan produk, tetapi juga mempertemukan kebutuhan industri dengan solusi yang ditawarkan para pemasok. Kehadiran peserta internasional memberikan kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk melihat perkembangan produk dan teknologi dari pasar global,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (31/8).
Penyelenggara turut menggelar sejumlah pameran pendukung secara paralel, seperti Bali Hotel & Tourism, Bali Coffee Expo, Bali Wine & Spirit, dan Bakery Indonesia Expo 2026. Kolaborasi ini memperluas ruang pertemuan antarpelaku industri perhotelan dan kuliner melalui agenda business matching dan networking.
Selain transaksi bisnis, acara ini juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia. Rangkaian edukasi dan kompetisi turut disiapkan, termasuk Gelato World Cup Indonesian Selection, kelas kopi, peragaan memasak, serta wine pairing.
Sertifikasi profesi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) juga dihadirkan melalui Krista Training Center by IKABOGA. Bidang yang disertifikasi mencakup Chef de Partie, Demi Chef, Baker, dan Commis Pastry.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace, menyambut baik gelaran ini. Menurutnya, penyelenggaraan rutin Bali Interfood bukan sekadar ajang perdagangan, melainkan sarana memperluas jejaring bisnis sekaligus mempromosikan potensi Bali.
“Ini menjadi bagian penting dalam memperkokoh daya saing industri hospitality di Indonesia. Tidak hanya dari sisi bisnis, tetapi juga bagaimana kita membangun jejaring dan memperkenalkan potensi yang dimiliki Bali,” ujarnya.
Cok Ace menambahkan, kuliner merupakan bagian penting dari pengalaman wisatawan selama berada di Bali. Hidangan lokal dinilai mampu menjadi media untuk mengenalkan budaya, cita rasa, dan kekayaan daerah. Pengembangan kuliner yang mengangkat kearifan lokal menjadi kunci untuk memperkuat karakter Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia.